Minggu, 09 Oktober 2016

LANGIR


Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi turun perlahan di tebing sungai itu, seperti doa yang lupa diselesaikan semalam. Kabut tipis bergelayut di antara batang-batang bambu, dan air mengalir bening, memantulkan langit yang masih pucat. Di situlah perempuan itu berlangir.

Ia datang membawa tempayan kecil dari tanah liat, berisi air rendaman limau purut, serai hutan, dan segenggam bunga liar. Bau asam segar bercampur wangi daun menghanyutkan ingatan pada sesuatu yang lama - tentang ibu-ibu dahulu yang percaya bahwa langir bukan sekadar membersihkan tubuh, melainkan menenangkan jiwa, menolak hal-hal buruk yang menempel tanpa sadar.

Perempuan itu menanggalkan kain luarnya, menyisakan selendang tipis yang melukis tubuhnya dengan cara paling sederhana. Rambutnya hitam, panjang, dan ketika air langir disiramkan, helainya jatuh seperti malam yang basah. Ia memejamkan mata, membiarkan air sungai dan langir menyatu di kulitnya, seakan sedang dibersihkan dari dunia.

Di balik semak rotan, seorang pemuda berdiam.

Ia sudah lama ada di sana, bahkan sebelum perempuan itu datang. Awalnya ia hanya hendak menjerat ikan kecil, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok itu menuruni batu sungai. Ia tahu seharusnya pergi. Sungai punya adatnya sendiri. Perempuan yang berlangir bukan untuk dipandangi. Namun kakinya membatu, dan matanya - yang selalu patuh - hari itu memilih durhaka.

Pemuda itu mengenal perempuan itu. Mereka sering berpapasan di jalan kampung, saling menunduk, saling menyapa sekadarnya. Ia menyukai cara perempuan itu tertawa kecil ketika malu, dan cara ia membawa diri, seperti air yang tahu ke mana harus mengalir. Tapi lidah pemuda itu kerap kalah oleh jantungnya sendiri. Kata cinta selalu sampai di dada, tak pernah berani naik ke mulut.

Dari tempat persembunyiannya, ia melihat perempuan itu menyiramkan limau langir ke rambutnya. Tetesan air jatuh satu per satu, membentuk lingkaran kecil di permukaan sungai. Wajah perempuan itu tenang, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Mungkin dengan masa lalu. Mungkin dengan harapan.

“Bersihlah,” gumam perempuan itu pelan, hampir tak terdengar. “Yang melekat, yang berat, yang tak perlu.”

Pemuda itu mendengar, meski tak yakin apakah kata-kata itu nyata atau hanya gema di kepalanya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin keluar dari balik semak, ingin mengatakan bahwa ia mencintainya dengan cara paling sederhana: menemaninya pulang, menimba air bersamanya, atau sekadar duduk diam di beranda sore hari. Tapi bayangan penolakan, bisik orang kampung, dan ketakutan akan kehilangan membuat langkahnya tetap terikat.

Perempuan itu selesai berlangir. Ia memeras rambutnya, mengenakan kembali kainnya, lalu duduk sebentar di batu, membiarkan angin mengeringkan tubuh dan pikirannya. Sesaat, matanya menatap ke arah semak tempat pemuda itu bersembunyi. Pemuda itu menahan napas.

Ia tak tahu apakah perempuan itu melihatnya, atau hanya merasakan sesuatu - seperti firasat halus yang sering dimiliki orang-orang yang dekat dengan alam. Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang tak ditujukan pada siapa pun, lalu berdiri dan melangkah pergi.

Pemuda itu baru berani keluar ketika suara langkah itu benar-benar hilang. Sungai kembali sepi. Bau langir masih tertinggal di udara, menusuk lembut, seperti kenangan yang enggan pergi. Ia duduk di batu tempat perempuan itu tadi, merendam tangannya ke air.

Air sungai mengalir, membawa sisa langir entah ke mana. Pemuda itu sadar, ada hal-hal yang hanya bisa dibersihkan dengan keberanian - bukan dengan limau, bukan dengan air, melainkan dengan kata-kata yang akhirnya diucapkan.

Namun pagi itu, ia pulang dengan diam. Cintanya tetap tinggal di sungai, mengendap bersama bau limau langir, menunggu hari ketika ia cukup berani untuk menyebut namanya sendiri.

 


Bunga Rampai

Oleh: OK Zulfani Anhar

Medan Labuhan, awal tahun 1950-an, adalah pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur. Bau asin laut bercampur teriakan kuli angkut, bunyi rantai kapal, dan desir angin yang membawa kisah orang-orang perantau. Di antara hiruk-pikuk itu, hidup seorang gadis bangsawan Melayu yang namanya kerap disebut dengan nada berbisik: Tengku Rampai.

Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Tengku Rampai duduk di beranda rumah besarnya yang menghadap sungai. Jemarinya cekatan meramu bunga rampai - mawar, kenanga, cempaka, dan sedikit daun pandan yang dirajang halus.

Harumnya lembut, menenangkan, seolah menyimpan rahasia. Sebagian disimpannya dalam mangkuk kuningan warisan keluarga, sebagian lagi ia selipkan di rambut hitamnya yang disanggul sederhana. Orang-orang berkata, kecantikannya bagai lukisan istana; namun yang tak banyak diketahui, keberaniannya jauh melampaui rupa itu.

Di tengah dunia yang mengikatnya dengan gelar dan adat, Tengku Rampai telah memilih hatinya sendiri. Seorang pemuda Melayu kebanyakan, Ulong Samad, berasal dari Teluk Mengkudu. Ia merantau ke Labuhan, bekerja sebagai kuli pelabuhan - mengangkat peti, mengikat tali, dan sesekali meniup serunai pitunangnya saat senja. Nada serunai itu, lirih dan panjang, kerap mengapung di udara, menembus tembok-tembok adat yang tebal.

Mereka seiya sekata. Di bawah pohon mempelam yang tua, di tepi pelabuhan, Tengku Rampai kerap mendengarkan Ulong Samad bercerita tentang laut yang luas dan hidup yang sederhana. Tak ada janji muluk, hanya kesetiaan yang disimpan rapat, seperti bunga rampai di rambutnya.

Namun adat lebih keras dari doa. Tengku Rampai dijodohkan dengan Tengku Anhar, bangsawan Melayu dari Tebingtinggi. Lelaki itu telah beristri dua, usianya seumuran ayah Tengku Rampai. Perkawinan dirancang megah - beradat diraja, penuh adat resam, kain songket, payung kuning, dan tabuhan gendang yang menggema. Semua orang bersukacita, kecuali satu hati yang retak diam-diam.

Pada hari perhelatan, langit cerah seolah merestui. Tengku Rampai duduk bersanding, wajahnya tenang, rambutnya tetap diselipi bunga rampai. Saat itulah, dari kejauhan, terdengar bunyi serunai pitunang. Lirih, sendu, seperti doa yang tersesat. Di bawah pohon mempelam dekat tempat perhelatan, Ulong Samad berdiri, meniup serunai itu. Tak seorang pun mengenalinya sebagai apa selain pemusik jalanan.

Tengku Rampai tahu. Tak ada serunai lain yang bernada seperti itu. Ada aliran pitunang merasuk ke hati terdalamnya.

Saat rehat berganti busana, ia mengendap-endap keluar. Tanpa perhiasan, tanpa pengiring. Ia menemui Ulong Samad, dan tanpa kata, mereka berlari ke arah laut. Nafas terengah, langkah mereka ditelan pasir. Sebuah perahu kecil tertambat, tali dilepas dengan tangan gemetar. Mereka berlayar, hanya berdua, tanpa arah tujuan - cukup menjauh dari bunyi gendang dan jerat adat.

Laut mula-mula tenang, memantulkan langit petang. Tengku Rampai menaburkan segenggam bunga rampai ke air, seolah memohon restu. Namun malam turun cepat. Angin berubah kasar. Ombak datang bertubi-tubi, menghantam perahu kecil itu. Dayung terlepas. Perahu terombang-ambing, bagai daun kering di arus tak bertepi.

Dalam gelap, Tengku Rampai menggenggam tangan Ulong Samad. “Jika ini akhir,” katanya lirih, “biarlah laut menjadi saksi pilihan kita.”

Serunai pitunang terjatuh ke air, nadanya berhenti selamanya. Ombak membesar, dan perahu itu hilang ditelan malam.

Keesokan harinya, laut tenang kembali. Tak ada kabar, tak ada jejak. Hanya di tepi pantai, orang-orang menemukan taburan bunga rampai terapung, harumnya masih bertahan di udara asin. Sejak itu, tiap senja, nelayan Teluk Mengkudu dan Medan Labuhan mengaku mendengar serunai lirih dari kejauhan - nada panjang, sendu, seperti cinta yang tak sempat berlabuh.

Dan di rumah bangsawan yang megah, mangkuk kuningan  bunga rampai dibiarkan kosong, menjadi kenangan tentang seorang Tengku yang memilih keberanian, meski harus dibayar dengan laut.

 

Senin, 03 Oktober 2016

Pohon Langkat, Percakapan dengan Diri di Masa Lalu

Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku kembali duduk di balai-balai tua itu, tepat di bawah pohon langkat yang batangnya berkerut seperti kulit orang tua. Malam turun perlahan, membawa bau tanah basah dan suara serangga yang saling sahut. Angin menyentuh daun-daun, membuatnya berbisik seolah menyebut namaku.

Balai-balai ini tak banyak berubah. Papan kayunya masih sama - retak di sudut kiri, paku berkarat di tengah. Dulu aku sering duduk di sini, menunggu waktu lewat sambil berpura-pura tak takut pada gelap. Kini aku kembali, dengan usia yang lebih berat dan ingatan yang tak lagi jinak.

“Apa kau masih suka menghitung bintang?” sebuah suara tiba-tiba terdengar.

Aku terkejut. Suara itu datang dari arah batang langkat, lembut tapi jelas. Aku menoleh. Di sana berdiri seseorang - kurus, rambutnya sedikit acak, mengenakan kaus lusuh yang sangat kukenal. Dadaku menegang.

Itu aku.

Lebih tepatnya, aku yang dulu.

“Jangan terkejut,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang dulu sering kupakai untuk menutupi takut. “Bukankah kau sering bilang pohon langkat ini ada penghuninya?”

Aku menelan ludah. Dalam benakku, cerita lama berkelebat. Tentang makhluk gaib penunggu pohon langkat, tentang suara-suara malam yang konon bisa menjawab pertanyaan orang yang duduk sendirian. Aku selalu percaya setengah-setengah - percaya karena takut, menyangkal karena ingin terlihat berani.

“Kau… siapa?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.

“Aku dirimu yang sering duduk di balai-balai ini,” katanya. “Yang bercakap-cakap dengan gelap dan mengira itu makhluk gaib.”

Aku tertawa kecil, getir. “Jadi selama ini aku bicara dengan diriku sendiri?”

Ia mengangkat bahu. “Atau mungkin kau bicara dengan sesuatu yang lebih jujur dari manusia.”

Kami duduk berhadapan. Balai-balai berderit pelan, seolah ikut mendengarkan. Daun langkat kembali berdesir, seperti napas panjang.

“Aku dulu banyak bertanya,” kata versi mudaku. “Kenapa hidup terasa sempit. Kenapa mimpi terasa jauh. Apa aku akan baik-baik saja.”

Aku terdiam. Pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup di dalamku, hanya bentuknya yang berubah.

“Dan apa jawabannya?” tanyaku pelan.

Ia menatapku lama. Matanya sama denganku - penuh harap yang rapuh. “Kau tak pernah menjawab. Kau hanya mendengarkan.”

Aku mengangguk. Dulu aku percaya makhluk gaib di pohon ini akan memberiku petunjuk. Kini aku sadar, yang sebenarnya kubutuhkan hanyalah ruang untuk jujur pada diri sendiri.

“Aku ingin tahu,” katanya lagi, suaranya bergetar, “apakah aku jadi seperti yang kuinginkan?”

Aku ingin berbohong. Ingin berkata semuanya indah, semuanya tercapai. Tapi balai-balai ini, pohon langkat ini, tak pernah menyukai dusta.

“Tidak sepenuhnya,” jawabku akhirnya. “Tapi kita bertahan. Kita belajar. Kita masih duduk di sini.”

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini lebih tenang. “Berarti aku tak salah menunggu.”

Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berdesir, lalu sunyi. Ketika aku menoleh lagi, versi mudaku sudah tak ada. Hanya batang langkat yang berdiri diam, dan balai-balai tua yang setia.

Aku menatap ke atas, ke sela-sela daun. Untuk pertama kalinya, aku tak lagi merasa berbicara dengan makhluk gaib. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri - yang dulu, yang sekarang, dan yang masih ingin bertahan.

Dan malam pun mendengarkan.

 

Minggu, 02 Oktober 2016

Cirik Barandang



Oleh: OK Zulfani Anhar

Di nagari kecil di kaki Bukit Barisan, ada satu rahasia yang hanya dibisikkan dari dapur ke dapur, dari ninik mamak ke kemenakan yang dianggap siap: Cirik Barandang. Orang-orang menyebutnya pelan, seolah kata itu sendiri bisa mendengar dan menyimpan dendam.

Secara bahasa, Cirik Barandang berarti tahi yang disangrai. Kedengarannya menjijikkan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia bukan ilmu sembarangan. Ia adalah pelet penunduk yang dipercaya mampu melipat kehendak manusia, membuat logika melemah dan kepatuhan tumbuh seperti akar yang mencengkeram batu.

Malam itu, hujan turun rapat. Bau tanah basah bercampur asap kayu dari dapur Uni Sari. Sejak menikah dengan Marajo, hidupnya terasa seperti berjalan di atas duri. Marajo keras kepala, tak pernah mau mendengar, dan pulang hanya untuk bertengkar. Kata orang, lelaki itu “kepala batu, tak bisa dilunakkan dengan doa biasa”.

Uni Sari menatap lesung tua di sudut dapur. Di sana terletak pinang sendawar, bahan yang konon paling ampun. Pinang itu sudah ditelannya sejak sore, mengikuti petunjuk dukun tua yang tinggal di seberang sungai. Kini, dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil dan mulai menggongseng hasilnya, mengaduk perlahan hingga menghitam dan kering.

Asap tipis naik, berbau pahit dan asing. Uni Sari menahan napas.

“Ini salah atau benar,” gumamnya, “Tuhan tahu niat ambo.”

Serbuk hitam itu kemudian ia simpan, menunggu saat yang tepat.

Keesokan paginya, Marajo pulang lebih awal. Uni Sari mencampurkan serbuk Cirik Barandang ke dalam kopi pahit kesukaan suaminya. Tak ada doa keras, hanya bisikan lirih yang nyaris tak terdengar.

Marajo meminum kopi itu tanpa curiga.

Hari pertama tak terjadi apa-apa. Hari kedua, Marajo mulai diam. Hari ketiga, ia menunduk saat Uni Sari bicara. Seminggu berlalu, lelaki yang dulu keras itu berubah seperti bayang-bayang dirinya sendiri. Ia menurut, patuh, bahkan kehilangan logika dalam kepatuhan itu. Orang-orang di nagari mulai berbisik:

“Marajo kanai Cirik Barandang.”

Awalnya Uni Sari merasa menang. Tak ada lagi bentakan, tak ada tangan yang terangkat. Namun lama-lama, kepatuhan itu terasa kosong. Marajo tak lagi tertawa, tak lagi berpendapat. Ia seperti boneka yang menunggu perintah.

Suatu malam, Uni Sari menangis di depan suaminya.

“Bang,” katanya lirih, “ambo indak minta abang jadi begini.”

Marajo hanya menatap kosong, matanya redup seperti api yang kehabisan kayu.

Saat itulah Uni Sari sadar, Cirik Barandang memang bisa menaklukkan hati, tapi juga mematikan jiwa. Ia bukan jalan keluar, melainkan jalan pintas yang menelan dua orang sekaligus: yang ditundukkan dan yang menundukkan.

Keesokan harinya, Uni Sari pergi ke sungai dan membuang sisa serbuk hitam itu. Ia memilih jalan yang lebih berat: bicara, bertahan, atau bahkan berpisah jika harus.

Di nagari itu, Cirik Barandang tetap ada, tetap dibisikkan. Tapi kisah Uni Sari menjadi pengingat: ada ilmu yang kuat pengaruhnya, namun kekuatannya selalu menuntut bayaran—dan sering kali, bayaran itu adalah hati manusia sendiri.

Pelet Cinta Nan Ringkas


Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku menemukan pelet itu di saku jaketnya - sebuah bunga cempaka kering, dibungkus kertas rokok bertuliskan namaku, beraroma minyak wangi seribu bunga. Namaku ditulis dengan huruf yang kukenal: goyah, seolah ditulis sambil menahan napas. Jantungku berdegup seperti pintu yang dipukul dari dalam.

“Cuma penenang,” katanya suatu sore, ketika aku bertanya mengapa akhir-akhir ini aku sering terbangun dengan rasa rindu yang tak beralasan, rindu yang menggerogoti kepala seperti bunyi jam rusak. Ia tersenyum kecil, senyum yang dulu kucintai karena terasa jujur. Kini, senyum itu terasa seperti sesuatu yang dilatih.

Sejak kapan cinta membutuhkan penenang?

Malam-malamku berubah. Aku mencintainya dengan cara yang tak pernah kupelajari. Aku menghafal napasnya, takut jika berhenti. Aku cemburu pada benda-benda: kursi yang lebih dulu menerima berat tubuhnya, pintu yang lebih dulu ia sentuh. Ketika ia terlambat membalas pesan, pikiranku berlari ke lorong-lorong gelap - aku membayangkan kepergiannya sebagai kematian kecil yang harus kualami berulang-ulang.

Aku mencoba berhenti. Aku menolak bertemu. Aku mematikan ponsel. Tapi rasa itu justru menguat, menekan dari dalam seperti kepalan tangan. Aku bermimpi dikejar bayanganku sendiri yang memanggil namanya. Aku bangun dengan lidah pahit, dada penuh, dan rasa malu yang tak bisa kujelaskan.

Suatu pagi, aku membaca ulang kertas rokok itu. Tulisan namaku tampak kabur, seolah huruf-hurufnya larut. Aku bertanya pada diri sendiri: jika cinta ini harus dipanggil dengan mantra, apakah ia masih cinta? Atau hanya pantulan keinginan seseorang yang takut sendirian?

Aku mendatanginya. Rumahnya sunyi. Di meja, ada semangkuk jeruk purut dan bunga setaman, dan anehnya ada pula bunga cempaka kering itu. Banyak. Terlalu banyak untuk satu orang. Aku membayangkan ia menaburkannya ke udara, berharap sesuatu jatuh tepat di hatinya sendiri. Harapan yang salah alamat.

“Maaf,” katanya ketika aku menunjukkan benda  itu. “Aku cuma ingin kamu tinggal.”

Kalimat itu sederhana, ringkas. Ia tak menyebut cinta. Ia menyebut ketakutan.

Aku meninggalkannya sore itu, membawa serta rasa yang belum padam. Di jalan, aku merasa ada yang mengikat langkahku, benang halus yang ditarik dari belakang. Aku hampir kembali. Hampir.

Hari-hari berikutnya, rasa itu surut perlahan, meninggalkan bekas seperti luka bakar. Aku belajar tidur tanpa memanggil namanya. Aku belajar bahwa kehilangan bisa sembuh, meski tak pernah sepenuhnya hilang.

Sebulan kemudian, aku mendengar kabar ia ditemukan sendirian, mangkok itu kosong. Tak ada pesan. Tak ada penjelasan. Hanya rumah yang kembali sunyi, lebih sunyi dari sebelumnya.

Aku berdiri di depan cermin, menyebut namaku sendiri, memastikan aku masih ada. Pelet cinta memang ringkas - ia bekerja cepat, dan berakhir cepat. Yang panjang hanyalah akibatnya: rasa bersalah yang menetap, dan kesadaran pahit bahwa cinta yang dipaksa tak pernah benar-benar datang. Ia hanya singgah, lalu pergi, meninggalkan seseorang yang lupa bagaimana mencintai tanpa mantra.