Senin, 03 Oktober 2016

Pohon Langkat, Percakapan dengan Diri di Masa Lalu

Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku kembali duduk di balai-balai tua itu, tepat di bawah pohon langkat yang batangnya berkerut seperti kulit orang tua. Malam turun perlahan, membawa bau tanah basah dan suara serangga yang saling sahut. Angin menyentuh daun-daun, membuatnya berbisik seolah menyebut namaku.

Balai-balai ini tak banyak berubah. Papan kayunya masih sama - retak di sudut kiri, paku berkarat di tengah. Dulu aku sering duduk di sini, menunggu waktu lewat sambil berpura-pura tak takut pada gelap. Kini aku kembali, dengan usia yang lebih berat dan ingatan yang tak lagi jinak.

“Apa kau masih suka menghitung bintang?” sebuah suara tiba-tiba terdengar.

Aku terkejut. Suara itu datang dari arah batang langkat, lembut tapi jelas. Aku menoleh. Di sana berdiri seseorang - kurus, rambutnya sedikit acak, mengenakan kaus lusuh yang sangat kukenal. Dadaku menegang.

Itu aku.

Lebih tepatnya, aku yang dulu.

“Jangan terkejut,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang dulu sering kupakai untuk menutupi takut. “Bukankah kau sering bilang pohon langkat ini ada penghuninya?”

Aku menelan ludah. Dalam benakku, cerita lama berkelebat. Tentang makhluk gaib penunggu pohon langkat, tentang suara-suara malam yang konon bisa menjawab pertanyaan orang yang duduk sendirian. Aku selalu percaya setengah-setengah - percaya karena takut, menyangkal karena ingin terlihat berani.

“Kau… siapa?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.

“Aku dirimu yang sering duduk di balai-balai ini,” katanya. “Yang bercakap-cakap dengan gelap dan mengira itu makhluk gaib.”

Aku tertawa kecil, getir. “Jadi selama ini aku bicara dengan diriku sendiri?”

Ia mengangkat bahu. “Atau mungkin kau bicara dengan sesuatu yang lebih jujur dari manusia.”

Kami duduk berhadapan. Balai-balai berderit pelan, seolah ikut mendengarkan. Daun langkat kembali berdesir, seperti napas panjang.

“Aku dulu banyak bertanya,” kata versi mudaku. “Kenapa hidup terasa sempit. Kenapa mimpi terasa jauh. Apa aku akan baik-baik saja.”

Aku terdiam. Pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup di dalamku, hanya bentuknya yang berubah.

“Dan apa jawabannya?” tanyaku pelan.

Ia menatapku lama. Matanya sama denganku - penuh harap yang rapuh. “Kau tak pernah menjawab. Kau hanya mendengarkan.”

Aku mengangguk. Dulu aku percaya makhluk gaib di pohon ini akan memberiku petunjuk. Kini aku sadar, yang sebenarnya kubutuhkan hanyalah ruang untuk jujur pada diri sendiri.

“Aku ingin tahu,” katanya lagi, suaranya bergetar, “apakah aku jadi seperti yang kuinginkan?”

Aku ingin berbohong. Ingin berkata semuanya indah, semuanya tercapai. Tapi balai-balai ini, pohon langkat ini, tak pernah menyukai dusta.

“Tidak sepenuhnya,” jawabku akhirnya. “Tapi kita bertahan. Kita belajar. Kita masih duduk di sini.”

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini lebih tenang. “Berarti aku tak salah menunggu.”

Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berdesir, lalu sunyi. Ketika aku menoleh lagi, versi mudaku sudah tak ada. Hanya batang langkat yang berdiri diam, dan balai-balai tua yang setia.

Aku menatap ke atas, ke sela-sela daun. Untuk pertama kalinya, aku tak lagi merasa berbicara dengan makhluk gaib. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri - yang dulu, yang sekarang, dan yang masih ingin bertahan.

Dan malam pun mendengarkan.

 

1 komentar: