Oleh: OK Zulfani Anhar
Aku kembali duduk di balai-balai tua itu,
tepat di bawah pohon langkat yang batangnya berkerut seperti kulit orang tua.
Malam turun perlahan, membawa bau tanah basah dan suara serangga yang saling
sahut. Angin menyentuh daun-daun, membuatnya berbisik seolah menyebut namaku.
Balai-balai ini
tak banyak berubah. Papan kayunya masih sama - retak di sudut kiri, paku
berkarat di tengah. Dulu aku sering duduk di sini, menunggu waktu lewat sambil
berpura-pura tak takut pada gelap. Kini aku kembali, dengan usia yang lebih
berat dan ingatan yang tak lagi jinak.
“Apa kau masih
suka menghitung bintang?” sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Aku terkejut.
Suara itu datang dari arah batang langkat, lembut tapi jelas. Aku menoleh. Di
sana berdiri seseorang - kurus, rambutnya sedikit acak, mengenakan kaus lusuh
yang sangat kukenal. Dadaku menegang.
Itu aku.
Lebih tepatnya,
aku yang dulu.
“Jangan terkejut,”
katanya sambil tersenyum. Senyum yang dulu sering kupakai untuk menutupi takut.
“Bukankah kau sering bilang pohon langkat ini ada penghuninya?”
Aku menelan
ludah. Dalam benakku, cerita lama berkelebat. Tentang makhluk gaib penunggu
pohon langkat, tentang suara-suara malam yang konon bisa menjawab pertanyaan
orang yang duduk sendirian. Aku selalu percaya setengah-setengah - percaya
karena takut, menyangkal karena ingin terlihat berani.
“Kau… siapa?”
tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.
“Aku dirimu
yang sering duduk di balai-balai ini,” katanya. “Yang bercakap-cakap dengan
gelap dan mengira itu makhluk gaib.”
Aku tertawa
kecil, getir. “Jadi selama ini aku bicara dengan diriku sendiri?”
Ia mengangkat
bahu. “Atau mungkin kau bicara dengan sesuatu yang lebih jujur dari manusia.”
Kami duduk
berhadapan. Balai-balai berderit pelan, seolah ikut mendengarkan. Daun langkat
kembali berdesir, seperti napas panjang.
“Aku dulu
banyak bertanya,” kata versi mudaku. “Kenapa hidup terasa sempit. Kenapa mimpi
terasa jauh. Apa aku akan baik-baik saja.”
Aku terdiam.
Pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup di dalamku, hanya bentuknya yang berubah.
“Dan apa
jawabannya?” tanyaku pelan.
Ia menatapku
lama. Matanya sama denganku - penuh harap yang rapuh. “Kau tak pernah menjawab.
Kau hanya mendengarkan.”
Aku mengangguk.
Dulu aku percaya makhluk gaib di pohon ini akan memberiku petunjuk. Kini aku
sadar, yang sebenarnya kubutuhkan hanyalah ruang untuk jujur pada diri sendiri.
“Aku ingin
tahu,” katanya lagi, suaranya bergetar, “apakah aku jadi seperti yang
kuinginkan?”
Aku ingin
berbohong. Ingin berkata semuanya indah, semuanya tercapai. Tapi balai-balai
ini, pohon langkat ini, tak pernah menyukai dusta.
“Tidak
sepenuhnya,” jawabku akhirnya. “Tapi kita bertahan. Kita belajar. Kita masih
duduk di sini.”
Ia tersenyum.
Senyum yang kali ini lebih tenang. “Berarti aku tak salah menunggu.”
Angin bertiup
lebih kencang. Daun-daun berdesir, lalu sunyi. Ketika aku menoleh lagi, versi
mudaku sudah tak ada. Hanya batang langkat yang berdiri diam, dan balai-balai
tua yang setia.
Aku menatap ke
atas, ke sela-sela daun. Untuk pertama kalinya, aku tak lagi merasa berbicara
dengan makhluk gaib. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri - yang dulu,
yang sekarang, dan yang masih ingin bertahan.
Dan malam pun mendengarkan.

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus