Oleh: OK Zulfani Anhar
Pagi turun perlahan di tebing sungai itu,
seperti doa yang lupa diselesaikan semalam. Kabut tipis bergelayut di antara
batang-batang bambu, dan air mengalir bening, memantulkan langit yang masih
pucat. Di situlah perempuan itu berlangir.
Ia datang membawa
tempayan kecil dari tanah liat, berisi air rendaman limau purut, serai hutan,
dan segenggam bunga liar. Bau asam segar bercampur wangi daun menghanyutkan
ingatan pada sesuatu yang lama - tentang ibu-ibu dahulu yang percaya bahwa langir
bukan sekadar membersihkan tubuh, melainkan menenangkan jiwa, menolak hal-hal
buruk yang menempel tanpa sadar.
Perempuan itu
menanggalkan kain luarnya, menyisakan selendang tipis yang melukis tubuhnya
dengan cara paling sederhana. Rambutnya hitam, panjang, dan ketika air langir
disiramkan, helainya jatuh seperti malam yang basah. Ia memejamkan mata,
membiarkan air sungai dan langir menyatu di kulitnya, seakan sedang dibersihkan
dari dunia.
Di balik semak
rotan, seorang pemuda berdiam.
Ia sudah lama
ada di sana, bahkan sebelum perempuan itu datang. Awalnya ia hanya hendak
menjerat ikan kecil, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok itu menuruni
batu sungai. Ia tahu seharusnya pergi. Sungai punya adatnya sendiri. Perempuan
yang berlangir bukan untuk dipandangi. Namun kakinya membatu, dan matanya - yang
selalu patuh - hari itu memilih durhaka.
Pemuda itu
mengenal perempuan itu. Mereka sering berpapasan di jalan kampung, saling
menunduk, saling menyapa sekadarnya. Ia menyukai cara perempuan itu tertawa
kecil ketika malu, dan cara ia membawa diri, seperti air yang tahu ke mana
harus mengalir. Tapi lidah pemuda itu kerap kalah oleh jantungnya sendiri. Kata
cinta selalu sampai di dada, tak pernah berani naik ke mulut.
Dari tempat
persembunyiannya, ia melihat perempuan itu menyiramkan limau langir ke
rambutnya. Tetesan air jatuh satu per satu, membentuk lingkaran kecil di
permukaan sungai. Wajah perempuan itu tenang, seperti sedang berbicara dengan
sesuatu yang tak terlihat. Mungkin dengan masa lalu. Mungkin dengan harapan.
“Bersihlah,” gumam
perempuan itu pelan, hampir tak terdengar. “Yang melekat, yang berat, yang tak
perlu.”
Pemuda itu
mendengar, meski tak yakin apakah kata-kata itu nyata atau hanya gema di
kepalanya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin keluar dari balik semak, ingin
mengatakan bahwa ia mencintainya dengan cara paling sederhana: menemaninya
pulang, menimba air bersamanya, atau sekadar duduk diam di beranda sore hari.
Tapi bayangan penolakan, bisik orang kampung, dan ketakutan akan kehilangan
membuat langkahnya tetap terikat.
Perempuan itu
selesai berlangir. Ia memeras rambutnya, mengenakan kembali kainnya, lalu duduk
sebentar di batu, membiarkan angin mengeringkan tubuh dan pikirannya. Sesaat,
matanya menatap ke arah semak tempat pemuda itu bersembunyi. Pemuda itu menahan
napas.
Ia tak tahu
apakah perempuan itu melihatnya, atau hanya merasakan sesuatu - seperti firasat
halus yang sering dimiliki orang-orang yang dekat dengan alam. Perempuan itu
tersenyum tipis, senyum yang tak ditujukan pada siapa pun, lalu berdiri dan
melangkah pergi.
Pemuda itu baru
berani keluar ketika suara langkah itu benar-benar hilang. Sungai kembali sepi.
Bau langir masih tertinggal di udara, menusuk lembut, seperti kenangan yang
enggan pergi. Ia duduk di batu tempat perempuan itu tadi, merendam tangannya ke
air.
Air sungai
mengalir, membawa sisa langir entah ke mana. Pemuda itu sadar, ada hal-hal yang
hanya bisa dibersihkan dengan keberanian - bukan dengan limau, bukan dengan air,
melainkan dengan kata-kata yang akhirnya diucapkan.
Namun pagi itu, ia pulang dengan diam. Cintanya tetap
tinggal di sungai, mengendap bersama bau limau langir, menunggu hari ketika ia
cukup berani untuk menyebut namanya sendiri.






