Minggu, 02 Oktober 2016

Pelet Cinta Nan Ringkas


Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku menemukan pelet itu di saku jaketnya - sebuah bunga cempaka kering, dibungkus kertas rokok bertuliskan namaku, beraroma minyak wangi seribu bunga. Namaku ditulis dengan huruf yang kukenal: goyah, seolah ditulis sambil menahan napas. Jantungku berdegup seperti pintu yang dipukul dari dalam.

“Cuma penenang,” katanya suatu sore, ketika aku bertanya mengapa akhir-akhir ini aku sering terbangun dengan rasa rindu yang tak beralasan, rindu yang menggerogoti kepala seperti bunyi jam rusak. Ia tersenyum kecil, senyum yang dulu kucintai karena terasa jujur. Kini, senyum itu terasa seperti sesuatu yang dilatih.

Sejak kapan cinta membutuhkan penenang?

Malam-malamku berubah. Aku mencintainya dengan cara yang tak pernah kupelajari. Aku menghafal napasnya, takut jika berhenti. Aku cemburu pada benda-benda: kursi yang lebih dulu menerima berat tubuhnya, pintu yang lebih dulu ia sentuh. Ketika ia terlambat membalas pesan, pikiranku berlari ke lorong-lorong gelap - aku membayangkan kepergiannya sebagai kematian kecil yang harus kualami berulang-ulang.

Aku mencoba berhenti. Aku menolak bertemu. Aku mematikan ponsel. Tapi rasa itu justru menguat, menekan dari dalam seperti kepalan tangan. Aku bermimpi dikejar bayanganku sendiri yang memanggil namanya. Aku bangun dengan lidah pahit, dada penuh, dan rasa malu yang tak bisa kujelaskan.

Suatu pagi, aku membaca ulang kertas rokok itu. Tulisan namaku tampak kabur, seolah huruf-hurufnya larut. Aku bertanya pada diri sendiri: jika cinta ini harus dipanggil dengan mantra, apakah ia masih cinta? Atau hanya pantulan keinginan seseorang yang takut sendirian?

Aku mendatanginya. Rumahnya sunyi. Di meja, ada semangkuk jeruk purut dan bunga setaman, dan anehnya ada pula bunga cempaka kering itu. Banyak. Terlalu banyak untuk satu orang. Aku membayangkan ia menaburkannya ke udara, berharap sesuatu jatuh tepat di hatinya sendiri. Harapan yang salah alamat.

“Maaf,” katanya ketika aku menunjukkan benda  itu. “Aku cuma ingin kamu tinggal.”

Kalimat itu sederhana, ringkas. Ia tak menyebut cinta. Ia menyebut ketakutan.

Aku meninggalkannya sore itu, membawa serta rasa yang belum padam. Di jalan, aku merasa ada yang mengikat langkahku, benang halus yang ditarik dari belakang. Aku hampir kembali. Hampir.

Hari-hari berikutnya, rasa itu surut perlahan, meninggalkan bekas seperti luka bakar. Aku belajar tidur tanpa memanggil namanya. Aku belajar bahwa kehilangan bisa sembuh, meski tak pernah sepenuhnya hilang.

Sebulan kemudian, aku mendengar kabar ia ditemukan sendirian, mangkok itu kosong. Tak ada pesan. Tak ada penjelasan. Hanya rumah yang kembali sunyi, lebih sunyi dari sebelumnya.

Aku berdiri di depan cermin, menyebut namaku sendiri, memastikan aku masih ada. Pelet cinta memang ringkas - ia bekerja cepat, dan berakhir cepat. Yang panjang hanyalah akibatnya: rasa bersalah yang menetap, dan kesadaran pahit bahwa cinta yang dipaksa tak pernah benar-benar datang. Ia hanya singgah, lalu pergi, meninggalkan seseorang yang lupa bagaimana mencintai tanpa mantra.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar