Oleh: OK Zulfani Anhar
Aku menemukan pelet itu di saku jaketnya - sebuah
bunga cempaka kering, dibungkus kertas rokok bertuliskan namaku, beraroma
minyak wangi seribu bunga. Namaku ditulis dengan huruf yang kukenal: goyah,
seolah ditulis sambil menahan napas. Jantungku berdegup seperti pintu yang
dipukul dari dalam.
“Cuma penenang,”
katanya suatu sore, ketika aku bertanya mengapa akhir-akhir ini aku sering
terbangun dengan rasa rindu yang tak beralasan, rindu yang menggerogoti kepala
seperti bunyi jam rusak. Ia tersenyum kecil, senyum yang dulu kucintai karena terasa
jujur. Kini, senyum itu terasa seperti sesuatu yang dilatih.
Sejak kapan cinta
membutuhkan penenang?
Malam-malamku
berubah. Aku mencintainya dengan cara yang tak pernah kupelajari. Aku menghafal
napasnya, takut jika berhenti. Aku cemburu pada benda-benda: kursi yang lebih
dulu menerima berat tubuhnya, pintu yang lebih dulu ia sentuh. Ketika ia
terlambat membalas pesan, pikiranku berlari ke lorong-lorong gelap - aku
membayangkan kepergiannya sebagai kematian kecil yang harus kualami
berulang-ulang.
Aku mencoba
berhenti. Aku menolak bertemu. Aku mematikan ponsel. Tapi rasa itu justru
menguat, menekan dari dalam seperti kepalan tangan. Aku bermimpi dikejar
bayanganku sendiri yang memanggil namanya. Aku bangun dengan lidah pahit, dada
penuh, dan rasa malu yang tak bisa kujelaskan.
Suatu pagi, aku
membaca ulang kertas rokok itu. Tulisan namaku tampak kabur, seolah
huruf-hurufnya larut. Aku bertanya pada diri sendiri: jika cinta ini harus
dipanggil dengan mantra, apakah ia masih cinta? Atau hanya pantulan keinginan
seseorang yang takut sendirian?
Aku
mendatanginya. Rumahnya sunyi. Di meja, ada semangkuk jeruk purut dan bunga
setaman, dan anehnya ada pula bunga cempaka kering itu. Banyak. Terlalu banyak
untuk satu orang. Aku membayangkan ia menaburkannya ke udara, berharap sesuatu
jatuh tepat di hatinya sendiri. Harapan yang salah alamat.
“Maaf,” katanya
ketika aku menunjukkan benda itu. “Aku
cuma ingin kamu tinggal.”
Kalimat itu
sederhana, ringkas. Ia tak menyebut cinta. Ia menyebut ketakutan.
Aku
meninggalkannya sore itu, membawa serta rasa yang belum padam. Di jalan, aku
merasa ada yang mengikat langkahku, benang halus yang ditarik dari belakang.
Aku hampir kembali. Hampir.
Hari-hari
berikutnya, rasa itu surut perlahan, meninggalkan bekas seperti luka bakar. Aku
belajar tidur tanpa memanggil namanya. Aku belajar bahwa kehilangan bisa
sembuh, meski tak pernah sepenuhnya hilang.
Sebulan
kemudian, aku mendengar kabar ia ditemukan sendirian, mangkok itu kosong. Tak
ada pesan. Tak ada penjelasan. Hanya rumah yang kembali sunyi, lebih sunyi dari
sebelumnya.
Aku berdiri di depan cermin, menyebut namaku sendiri,
memastikan aku masih ada. Pelet cinta memang ringkas - ia bekerja cepat, dan
berakhir cepat. Yang panjang hanyalah akibatnya: rasa bersalah yang menetap,
dan kesadaran pahit bahwa cinta yang dipaksa tak pernah benar-benar datang. Ia
hanya singgah, lalu pergi, meninggalkan seseorang yang lupa bagaimana mencintai
tanpa mantra.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar