Oleh:
OK Zulfani Anhar
Malam menutup
kota dengan suara klakson dan langkah yang tergesa. Namun di kamar sempit
lantai tiga itu, Boboboi duduk sendiri dalam sunyi yang terasa ganjil.
Ponselnya menyala di atas meja, bergetar pelan oleh notifikasi yang tak
benar-benar ingin ia buka. Ada kabar bahagia orang lain, ada tawa yang
dibagikan lewat layar, ada hidup yang tampak berjalan baik-baik saja, bukan
hidupnya.
Saat layar itu
akhirnya ia matikan, kosong mengendap tanpa permisi.
Boboboi tahu ia
tidak sendiri. Ada keluarga yang masih bisa dihubungi, teman lama yang namanya
tersimpan rapi, rekan kerja yang menyapanya setiap pagi. Namun kesepian tidak
pernah bertanya berapa banyak orang di sekeliling kita. Ia hanya ingin tahu
satu hal: apakah kita benar-benar dilihat.
Ingatan Boboboi
melayang pada sore tadi di kafe kecil langganannya. Ia berbincang singkat
dengan pelayan tentang cuaca yang terlalu panas dan kopi yang terasa lebih
pahit dari biasanya. Tidak penting, tidak mendalam. Tapi anehnya, percakapan
singkat itu meninggalkan hangat yang jujur - lebih hangat daripada obrolan
panjang di grup pesan yang penuh tawa palsu dan basa-basi.
Di sanalah ia
mengerti: kesepian bukan tentang sunyi, melainkan tentang keterhubungan.
Keesokan harinya,
Boboboi mencoba hal sederhana. Ia menyapa satpam kompleks dengan senyum dan
bertanya kabar. Ia menulis pesan pada seorang teman lama dengan jujur, tanpa
topeng: “Apa kabar? Aku kangen ngobrol.”
Tidak semua pesan dibalas cepat. Ada yang hanya dibaca, ada yang tak kunjung
dijawab. Namun hatinya terasa lebih ringan. Ia telah berani membuka pintu.
Hari-hari
berlalu pelan. Boboboi belajar duduk dengan perasaannya sendiri tanpa
mengusirnya. Ia belajar bahwa kesepian tidak perlu dikalahkan dengan keramaian.
Ia cukup dihadapi dengan keberanian untuk hadir - bagi orang lain, dan bagi
diri sendiri. Mengakui bahwa merasa sepi bukanlah tanda kelemahan, melainkan
bagian dari menjadi manusia.
Suatu malam, ia
kembali ke kamar yang sama. Masih sunyi, masih sederhana. Namun ada yang
berbeda. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, secangkir teh hangat mengepul di
meja, dan satu pesan baru masuk di ponselnya: ajakan bertemu akhir pekan.
Boboboi
tersenyum kecil.
Ia tahu
kesepian mungkin akan datang lagi. Tapi kini ia paham satu hal penting: jangan
biarkan kesepian tinggal terlalu lama. Sambutlah ia sebentar, pahami maksudnya,
lalu bukakan pintu - agar ia tahu kapan harus pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar