Jumat, 16 September 2016

Kesepian yang Belajar Pergi


Oleh: OK Zulfani Anhar

Malam menutup kota dengan suara klakson dan langkah yang tergesa. Namun di kamar sempit lantai tiga itu, Boboboi duduk sendiri dalam sunyi yang terasa ganjil. Ponselnya menyala di atas meja, bergetar pelan oleh notifikasi yang tak benar-benar ingin ia buka. Ada kabar bahagia orang lain, ada tawa yang dibagikan lewat layar, ada hidup yang tampak berjalan baik-baik saja, bukan hidupnya.

Saat layar itu akhirnya ia matikan, kosong mengendap tanpa permisi.

Boboboi tahu ia tidak sendiri. Ada keluarga yang masih bisa dihubungi, teman lama yang namanya tersimpan rapi, rekan kerja yang menyapanya setiap pagi. Namun kesepian tidak pernah bertanya berapa banyak orang di sekeliling kita. Ia hanya ingin tahu satu hal: apakah kita benar-benar dilihat.

Ingatan Boboboi melayang pada sore tadi di kafe kecil langganannya. Ia berbincang singkat dengan pelayan tentang cuaca yang terlalu panas dan kopi yang terasa lebih pahit dari biasanya. Tidak penting, tidak mendalam. Tapi anehnya, percakapan singkat itu meninggalkan hangat yang jujur - lebih hangat daripada obrolan panjang di grup pesan yang penuh tawa palsu dan basa-basi.

Di sanalah ia mengerti: kesepian bukan tentang sunyi, melainkan tentang keterhubungan.

Keesokan harinya, Boboboi mencoba hal sederhana. Ia menyapa satpam kompleks dengan senyum dan bertanya kabar. Ia menulis pesan pada seorang teman lama dengan jujur, tanpa topeng: “Apa kabar? Aku kangen ngobrol.” Tidak semua pesan dibalas cepat. Ada yang hanya dibaca, ada yang tak kunjung dijawab. Namun hatinya terasa lebih ringan. Ia telah berani membuka pintu.

Hari-hari berlalu pelan. Boboboi belajar duduk dengan perasaannya sendiri tanpa mengusirnya. Ia belajar bahwa kesepian tidak perlu dikalahkan dengan keramaian. Ia cukup dihadapi dengan keberanian untuk hadir - bagi orang lain, dan bagi diri sendiri. Mengakui bahwa merasa sepi bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia.

Suatu malam, ia kembali ke kamar yang sama. Masih sunyi, masih sederhana. Namun ada yang berbeda. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, secangkir teh hangat mengepul di meja, dan satu pesan baru masuk di ponselnya: ajakan bertemu akhir pekan.

Boboboi tersenyum kecil.

Ia tahu kesepian mungkin akan datang lagi. Tapi kini ia paham satu hal penting: jangan biarkan kesepian tinggal terlalu lama. Sambutlah ia sebentar, pahami maksudnya, lalu bukakan pintu - agar ia tahu kapan harus pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar