Oleh: OK Zulfani Anhar
Pagi itu aku berdiri di bengkel kayu kecil di
ujung kampung. Seorang tukang kayu tua sedang bekerja sendirian. Tangannya
bergerak cepat, gergaji turun naik dengan ritme yang nyaris seperti musik.
Potongan kayu jatuh rapi, lurus, seolah sudah diukur oleh alat canggih. Padahal
aku tak melihat penggaris, apalagi mesin modern.
“Bagaimana Bapak
bisa sepresisi itu?” tanyaku.
Ia berhenti
sebentar, tersenyum, lalu mengangkat bahu.
“Ya begini saja. Sudah biasa.”
Jawaban yang sama
kudengar di dapur rumah seorang ibu. Tanpa resep tertulis, tanpa menimbang
bumbu, ia memasak masakan favorit keluarga dengan rasa yang selalu sama. Ketika
ditanya takarannya, ia hanya menunjuk ujung jarinya. “Kira-kira segini,”
katanya. Masakan itu tak pernah gagal.
Di jalanan,
seorang pengendara motor melaju lincah di tengah keramaian. Tubuhnya condong
mengikuti arus, refleksnya cepat menghindari lubang dan kendaraan lain. Tak
tampak ragu. Tak tampak berpikir keras. Semua mengalir begitu saja.
Aku mulai
menyadari satu hal: ada pengetahuan yang tidak lahir dari buku.
Pengetahuan itu
tidak tertulis, tidak terucap dengan rapi, dan sering kali tidak bisa
dijelaskan. Ia hidup di tangan, di tubuh, di kebiasaan. Ia tumbuh dari
pengalaman yang diulang-ulang sampai akhirnya menyatu dengan diri seseorang.
Inilah pengetahuan yang diam-diam bekerja di balik kelancaran hidup
sehari-hari.
Aku teringat
saat pertama kali belajar naik sepeda. Banyak nasihat kudengar: jaga
keseimbangan, jangan kaku, pandangan lurus ke depan. Semua terdengar masuk
akal, tapi tak satu pun benar-benar menolong saat roda mulai goyah. Aku jatuh,
bangkit, jatuh lagi. Sampai suatu sore, tanpa sadar, tubuhku tahu apa yang
harus dilakukan. Tidak ada rumus. Tidak ada hafalan. Hanya rasa.
Sejak saat itu,
aku bisa bersepeda tanpa berpikir.
Di dunia kerja
pun aku melihat hal yang sama. Seorang pegawai senior mampu mengambil keputusan
cepat dalam situasi rumit. Ketika diminta menjelaskan alasannya, ia terdiam
sejenak. “Pengalaman,” katanya singkat. Ia pernah ada di sana. Pernah gagal.
Pernah berhasil. Semua itu terkumpul menjadi insting yang sulit diterjemahkan
menjadi kata-kata.
Di Indonesia,
pengetahuan seperti ini sering diwariskan secara sunyi. Seorang anak belajar
sopan santun bukan dari daftar aturan, tetapi dari cara orang tuanya berbicara.
Seorang murid belajar kebijaksanaan bukan hanya dari buku pelajaran, melainkan
dari sikap gurunya sehari-hari. Mereka mengamati, meniru, dan mengalami.
Namun
pengetahuan semacam ini sering diabaikan. Dunia lebih percaya pada sertifikat,
angka, dan teori tertulis. Padahal, kemampuan sejati seseorang sering
tersembunyi dalam pengalaman yang tak pernah dicatat.
Aku kembali
mengingat tukang kayu tua itu. Tangannya mungkin tak memegang ijazah tinggi,
tetapi setiap gerakannya menyimpan puluhan tahun belajar tanpa sadar.
Pengetahuan yang tidak berisik, tapi bekerja dengan setia.
Dari situ aku
belajar:
belajar bukan hanya soal membaca dan menghafal.
Belajar adalah soal mengalami, merasakan, dan melakukan - sampai suatu hari,
kita tak perlu lagi bertanya bagaimana caranya.
Karena tubuh, pengalaman, dan kebiasaan sudah lebih
dulu tahu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar