Sabtu, 03 September 2016

Ilmu yang Tidak Selalu Bisa Dijelaskan


Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu aku berdiri di bengkel kayu kecil di ujung kampung. Seorang tukang kayu tua sedang bekerja sendirian. Tangannya bergerak cepat, gergaji turun naik dengan ritme yang nyaris seperti musik. Potongan kayu jatuh rapi, lurus, seolah sudah diukur oleh alat canggih. Padahal aku tak melihat penggaris, apalagi mesin modern.

“Bagaimana Bapak bisa sepresisi itu?” tanyaku.

Ia berhenti sebentar, tersenyum, lalu mengangkat bahu.
“Ya begini saja. Sudah biasa.”

Jawaban yang sama kudengar di dapur rumah seorang ibu. Tanpa resep tertulis, tanpa menimbang bumbu, ia memasak masakan favorit keluarga dengan rasa yang selalu sama. Ketika ditanya takarannya, ia hanya menunjuk ujung jarinya. “Kira-kira segini,” katanya. Masakan itu tak pernah gagal.

Di jalanan, seorang pengendara motor melaju lincah di tengah keramaian. Tubuhnya condong mengikuti arus, refleksnya cepat menghindari lubang dan kendaraan lain. Tak tampak ragu. Tak tampak berpikir keras. Semua mengalir begitu saja.

Aku mulai menyadari satu hal: ada pengetahuan yang tidak lahir dari buku.

Pengetahuan itu tidak tertulis, tidak terucap dengan rapi, dan sering kali tidak bisa dijelaskan. Ia hidup di tangan, di tubuh, di kebiasaan. Ia tumbuh dari pengalaman yang diulang-ulang sampai akhirnya menyatu dengan diri seseorang. Inilah pengetahuan yang diam-diam bekerja di balik kelancaran hidup sehari-hari.

Aku teringat saat pertama kali belajar naik sepeda. Banyak nasihat kudengar: jaga keseimbangan, jangan kaku, pandangan lurus ke depan. Semua terdengar masuk akal, tapi tak satu pun benar-benar menolong saat roda mulai goyah. Aku jatuh, bangkit, jatuh lagi. Sampai suatu sore, tanpa sadar, tubuhku tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada rumus. Tidak ada hafalan. Hanya rasa.

Sejak saat itu, aku bisa bersepeda tanpa berpikir.

Di dunia kerja pun aku melihat hal yang sama. Seorang pegawai senior mampu mengambil keputusan cepat dalam situasi rumit. Ketika diminta menjelaskan alasannya, ia terdiam sejenak. “Pengalaman,” katanya singkat. Ia pernah ada di sana. Pernah gagal. Pernah berhasil. Semua itu terkumpul menjadi insting yang sulit diterjemahkan menjadi kata-kata.

Di Indonesia, pengetahuan seperti ini sering diwariskan secara sunyi. Seorang anak belajar sopan santun bukan dari daftar aturan, tetapi dari cara orang tuanya berbicara. Seorang murid belajar kebijaksanaan bukan hanya dari buku pelajaran, melainkan dari sikap gurunya sehari-hari. Mereka mengamati, meniru, dan mengalami.

Namun pengetahuan semacam ini sering diabaikan. Dunia lebih percaya pada sertifikat, angka, dan teori tertulis. Padahal, kemampuan sejati seseorang sering tersembunyi dalam pengalaman yang tak pernah dicatat.

Aku kembali mengingat tukang kayu tua itu. Tangannya mungkin tak memegang ijazah tinggi, tetapi setiap gerakannya menyimpan puluhan tahun belajar tanpa sadar. Pengetahuan yang tidak berisik, tapi bekerja dengan setia.

Dari situ aku belajar:
belajar bukan hanya soal membaca dan menghafal.
Belajar adalah soal mengalami, merasakan, dan melakukan - sampai suatu hari, kita tak perlu lagi bertanya bagaimana caranya.

Karena tubuh, pengalaman, dan kebiasaan sudah lebih dulu tahu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar