Oleh:
OK Zulfani Anhar
Pagi itu, Arga duduk di warung kopi
kecil di sudut pasar. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul pelan,
aromanya bercampur dengan suara tawar-menawar para pedagang. Arga menatap layar
ponselnya yang menampilkan pesan penolakan kerja - lagi. Ia menarik napas
panjang. Dalam benaknya, hidup selalu terasa kurang: kurang uang, kurang pengakuan,
kurang keberuntungan.
Di meja sebelah, seorang lelaki tua
menyesap teh hangat sambil tersenyum pada siapa saja yang lewat. Pak Saman,
begitu orang-orang memanggilnya. Pakaian lelaki itu sederhana, bahkan tampak
lusuh. Namun senyumnya seperti tak pernah habis.
“Anak muda, kopinya enak?” tanya Pak
Saman.
Arga mengangguk singkat. “Lumayan,
Pak.”
Pak Saman tertawa kecil. “Lumayan
itu sudah lebih dari cukup.”
Kalimat itu membuat Arga mengernyit.
Ia terbiasa mendengar orang berkata belum cukup, bukan lebih dari
cukup. Tanpa sadar, Arga mulai bercerita, tentang kegagalannya, tentang
teman-temannya yang sudah mapan, tentang hidup yang terasa tidak adil.
Pak Saman mendengarkan tanpa
menyela. Setelah Arga selesai, lelaki tua itu berkata pelan, “Dulu saya juga
begitu. Mengukur hidup dari apa yang tidak saya punya.”
“Sekarang Bapak sudah punya
segalanya?” tanya Arga, setengah sinis.
Pak Saman menggeleng. “Tidak. Tapi
saya berhenti merasa kekurangan.”
Ia menunjuk pasar yang ramai. “Lihat
mereka. Ada yang dagangannya sedikit, ada yang banyak. Tapi yang tersenyum itu
bukan selalu yang paling laris. Kelimpahan itu soal cara memandang, bukan soal
isi kantong.”
Hari itu, Arga pulang dengan kepala
penuh pertanyaan. Ia mulai mencoba hal kecil: bersyukur atas tubuhnya yang
sehat, atas ibunya yang selalu menelpon, atas waktu luang yang bisa ia gunakan
untuk belajar. Ia berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain.
Beberapa minggu kemudian, Arga
mendapat pekerjaan sederhana di sebuah komunitas belajar. Gajinya tidak besar,
tetapi setiap sore ia pulang dengan perasaan berguna. Ia mengenal orang-orang
baru, berbagi cerita, dan tertawa tanpa perlu memikirkan apa yang kurang.
Suatu pagi, Arga kembali ke warung
kopi. Ia mencari Pak Saman, tetapi kursi itu kosong.
“Pak Saman sudah pindah,” kata
pemilik warung. “Katanya mau tinggal dekat cucunya.”
Arga tersenyum. Ia menyesap kopinya
dan menyadari sesuatu: hidupnya belum berubah drastis, tetapi hatinya terasa
penuh. Ia mengerti kini - kelimpahan bukan sesuatu yang dikejar jauh ke depan,
melainkan sesuatu yang hadir ketika ia berhenti merasa kurang.
Kopi itu tetap sama. Namun pagi itu,
Arga merasa hidupnya lebih utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar