Sabtu, 03 September 2016

Kelimpahan Yang Tak Terlihat

Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu, Arga duduk di warung kopi kecil di sudut pasar. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul pelan, aromanya bercampur dengan suara tawar-menawar para pedagang. Arga menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan penolakan kerja - lagi. Ia menarik napas panjang. Dalam benaknya, hidup selalu terasa kurang: kurang uang, kurang pengakuan, kurang keberuntungan.

Di meja sebelah, seorang lelaki tua menyesap teh hangat sambil tersenyum pada siapa saja yang lewat. Pak Saman, begitu orang-orang memanggilnya. Pakaian lelaki itu sederhana, bahkan tampak lusuh. Namun senyumnya seperti tak pernah habis.

“Anak muda, kopinya enak?” tanya Pak Saman.

Arga mengangguk singkat. “Lumayan, Pak.”

Pak Saman tertawa kecil. “Lumayan itu sudah lebih dari cukup.”

Kalimat itu membuat Arga mengernyit. Ia terbiasa mendengar orang berkata belum cukup, bukan lebih dari cukup. Tanpa sadar, Arga mulai bercerita, tentang kegagalannya, tentang teman-temannya yang sudah mapan, tentang hidup yang terasa tidak adil.

Pak Saman mendengarkan tanpa menyela. Setelah Arga selesai, lelaki tua itu berkata pelan, “Dulu saya juga begitu. Mengukur hidup dari apa yang tidak saya punya.”

“Sekarang Bapak sudah punya segalanya?” tanya Arga, setengah sinis.

Pak Saman menggeleng. “Tidak. Tapi saya berhenti merasa kekurangan.”

Ia menunjuk pasar yang ramai. “Lihat mereka. Ada yang dagangannya sedikit, ada yang banyak. Tapi yang tersenyum itu bukan selalu yang paling laris. Kelimpahan itu soal cara memandang, bukan soal isi kantong.”

Hari itu, Arga pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Ia mulai mencoba hal kecil: bersyukur atas tubuhnya yang sehat, atas ibunya yang selalu menelpon, atas waktu luang yang bisa ia gunakan untuk belajar. Ia berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain.

Beberapa minggu kemudian, Arga mendapat pekerjaan sederhana di sebuah komunitas belajar. Gajinya tidak besar, tetapi setiap sore ia pulang dengan perasaan berguna. Ia mengenal orang-orang baru, berbagi cerita, dan tertawa tanpa perlu memikirkan apa yang kurang.

Suatu pagi, Arga kembali ke warung kopi. Ia mencari Pak Saman, tetapi kursi itu kosong.

“Pak Saman sudah pindah,” kata pemilik warung. “Katanya mau tinggal dekat cucunya.”

Arga tersenyum. Ia menyesap kopinya dan menyadari sesuatu: hidupnya belum berubah drastis, tetapi hatinya terasa penuh. Ia mengerti kini - kelimpahan bukan sesuatu yang dikejar jauh ke depan, melainkan sesuatu yang hadir ketika ia berhenti merasa kurang.

Kopi itu tetap sama. Namun pagi itu, Arga merasa hidupnya lebih utuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar