Jumat, 09 September 2016

Risalah Rezeki

image

Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu belum sepenuhnya terjaga ketika aku bertemu dengannya. Matahari masih malu-malu menyelinap di sela awan, dan embun menahan dingin di ujung daun. Di sebuah warung kecil yang menghadap jalan lengang, aku duduk berhadapan dengan sosok yang sejak lama kuanggap lebih dari sekadar sahabat. Namanya M. Muhar Omtatok, dan seperti biasa aku memanggilnya abangda - panggilan yang lahir dari kekeluargaan dan rasa tak bersekat.

Abangda datang tanpa banyak kata. Senyumnya tenang, seolah membawa kabar baik yang tak perlu diumumkan keras-keras. Kami memesan teh tarik. Ia mengaduk pelan, lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya. Kertas itu sudah sedikit kusam, lipatannya menyimpan jejak perjalanan. “Ini bukan kertas biasa,” katanya lirih. “Ini risalah.”

Aku membacanya dengan saksama, dan sejak kalimat pertama, dadaku terasa lapang.
Mengenai hakikat rezeki harus difahami berdasarkan realitas maknanya. Kata rezeki dari kata ar-Rizq… berarti pemberian.

Aku terdiam. Kata “pemberian” berputar lama di kepalaku. Selama ini, aku sering mengira rezeki hanya soal angka - berapa yang masuk, berapa yang keluar. Padahal, abangda menuntunku kembali ke asal: pemberian. Dan sebagai orang beragama, pemberian itu datang dari Tuhan.

“Rezeki itu luas,” lanjut abangda, seakan membaca pikiranku. “Bukan hanya yang bisa dimakan atau dipakai. Bahkan yang tak sempat kita manfaatkan pun tetap rezeki.”


Aku mengangguk. Aku teringat kesehatan yang sering kuabaikan, waktu yang kusiakan, dan orang-orang baik yang singgah sebentar lalu pergi - ternyata mereka pun bagian dari rezeki.

Di risalah itu tertulis pula, betapa zaman telah mempersempit makna rezeki menjadi uang dan kebendaan. Abangda tak menyalahkan siapa pun. Ia hanya tersenyum dan menyerahkan daftar petuah, seperti peta pulang bagi hati yang tersesat.

Pertama, katanya, jangan durhaka dan jangan menyakitkan hati orangtua. Santuni mereka dengan uang, perhatian, dan kasih sayang. Aku teringat suara ibu di telepon yang sering kuakhiri terburu-buru.

Kedua, jangan menganiaya diri sendiri, orang lain, dan seluruh makhluk.
Ketiga, ikhlas - kata yang sederhana namun paling berat diamalkan.

Ia membacakan satu per satu, dan setiap petuah terasa seperti cermin. Berderma setiap pagi. Memperbanyak senyum tanpa dibuat-buat. Tidak memakan yang bukan hak. Tidak tidur dari terbit fajar hingga tengah hari.

Berserah diri pada Tuhan namun tetap optimis, sabar tapi bersungguh-sungguh. Bergaul dengan orang baik akhlaknya dan lancar rezekinya. Tidak berburuk sangka, menjaga aroma kebaikan di tubuh dan tempat tinggal. Beribadah bila masih percaya rezeki bersumber dari Tuhan. Membuka silaturrahmi. Bersyukur dan menghindari keluh. Realistis memilih usaha, berkaca pada potensi.

“Kalau lima belas petuah ini dijalankan,” ujar abangda, “rezeki akan datang dari mana pun, tanpa menyulitkan.”
Aku menatap kertas itu lagi. Di bagian bawah tertulis kecil: Disarikan dari Risalah Subuh – M. Muhar Omtatok.

Teh tarik  kami telah dingin. Namun dadaku hangat. Aku sadar, yang diberikan abangda pagi itu bukan sekadar nasihat, melainkan arah. Ia tidak menjanjikan kemewahan, tidak pula menakut-nakuti dengan kekurangan. Ia hanya mengingatkan cara berjalan - agar langkahku tidak melukai, agar tanganku ringan memberi, agar hatiku bersih menerima.

Kami berpisah ketika matahari sudah cukup tinggi. Di jalan pulang, aku mempraktikkan risalah itu dengan cara paling sederhana: tersenyum pada orang yang kutemui, melangkah lebih pelan, dan bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi. Aku menelepon ibu, kali ini tanpa terburu-buru. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menggantang asap, untuk bekerja sesuai potensi, dan berdoa tanpa menawar.

Sejak hari itu, rezeki memang datang, tidak selalu berupa uang. Kadang berupa ketenangan, kadang berupa pertemanan yang tulus, kadang berupa kesempatan memperbaiki diri. Dan setiap kali aku lupa, aku ingat abangda, kertas kusam itu, dan satu kata yang menjadi kunci segalanya: pemberian.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar