
Oleh:
OK Zulfani Anhar
Pagi itu belum
sepenuhnya terjaga ketika aku bertemu dengannya. Matahari masih malu-malu
menyelinap di sela awan, dan embun menahan dingin di ujung daun. Di sebuah
warung kecil yang menghadap jalan lengang, aku duduk berhadapan dengan sosok
yang sejak lama kuanggap lebih dari sekadar sahabat. Namanya M. Muhar Omtatok, dan seperti biasa aku
memanggilnya abangda - panggilan
yang lahir dari kekeluargaan dan rasa tak bersekat.
Abangda datang
tanpa banyak kata. Senyumnya tenang, seolah membawa kabar baik yang tak perlu
diumumkan keras-keras. Kami memesan teh tarik. Ia mengaduk pelan, lalu
mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya. Kertas itu sudah sedikit kusam,
lipatannya menyimpan jejak perjalanan. “Ini bukan kertas biasa,” katanya lirih.
“Ini risalah.”
Aku membacanya
dengan saksama, dan sejak kalimat pertama, dadaku terasa lapang.
Mengenai hakikat rezeki harus difahami
berdasarkan realitas maknanya. Kata rezeki dari kata ar-Rizq… berarti pemberian.
Aku terdiam. Kata “pemberian” berputar lama
di kepalaku. Selama ini, aku sering mengira rezeki hanya soal angka - berapa
yang masuk, berapa yang keluar. Padahal, abangda menuntunku kembali ke asal:
pemberian. Dan sebagai orang beragama, pemberian itu datang dari Tuhan.
“Rezeki itu
luas,” lanjut abangda, seakan membaca pikiranku. “Bukan hanya yang bisa dimakan
atau dipakai. Bahkan yang tak sempat kita manfaatkan pun tetap rezeki.”
Aku mengangguk. Aku teringat kesehatan yang sering kuabaikan, waktu yang
kusiakan, dan orang-orang baik yang singgah sebentar lalu pergi - ternyata
mereka pun bagian dari rezeki.
Di risalah itu
tertulis pula, betapa zaman telah mempersempit makna rezeki menjadi uang dan kebendaan.
Abangda tak menyalahkan siapa pun. Ia hanya tersenyum dan menyerahkan daftar
petuah, seperti peta pulang bagi hati yang tersesat.
Pertama,
katanya, jangan durhaka dan jangan menyakitkan hati orangtua. Santuni mereka
dengan uang, perhatian, dan kasih sayang. Aku teringat suara ibu di telepon
yang sering kuakhiri terburu-buru.
Kedua, jangan menganiaya diri sendiri, orang
lain, dan seluruh makhluk.
Ketiga, ikhlas - kata yang sederhana namun paling berat diamalkan.
Ia membacakan
satu per satu, dan setiap petuah terasa seperti cermin. Berderma setiap pagi.
Memperbanyak senyum tanpa dibuat-buat. Tidak memakan yang bukan hak. Tidak
tidur dari terbit fajar hingga tengah hari.
Berserah diri pada Tuhan namun tetap optimis,
sabar tapi bersungguh-sungguh. Bergaul dengan orang baik akhlaknya dan lancar
rezekinya. Tidak berburuk sangka, menjaga aroma kebaikan di tubuh dan tempat
tinggal. Beribadah bila masih percaya rezeki bersumber dari Tuhan. Membuka
silaturrahmi. Bersyukur dan menghindari keluh. Realistis memilih usaha, berkaca
pada potensi.
“Kalau lima
belas petuah ini dijalankan,” ujar abangda, “rezeki akan datang dari mana pun,
tanpa menyulitkan.”
Aku menatap kertas itu lagi. Di bagian bawah tertulis kecil: Disarikan dari Risalah Subuh – M. Muhar Omtatok.
Teh tarik kami telah dingin. Namun dadaku hangat. Aku
sadar, yang diberikan abangda pagi itu bukan sekadar nasihat, melainkan arah.
Ia tidak menjanjikan kemewahan, tidak pula menakut-nakuti dengan kekurangan. Ia
hanya mengingatkan cara berjalan - agar langkahku tidak melukai, agar tanganku
ringan memberi, agar hatiku bersih menerima.
Kami berpisah
ketika matahari sudah cukup tinggi. Di jalan pulang, aku mempraktikkan risalah
itu dengan cara paling sederhana: tersenyum pada orang yang kutemui, melangkah
lebih pelan, dan bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi. Aku
menelepon ibu, kali ini tanpa terburu-buru. Aku berjanji pada diri sendiri
untuk tidak lagi menggantang asap, untuk bekerja sesuai potensi, dan berdoa
tanpa menawar.
Sejak hari itu, rezeki memang datang, tidak selalu
berupa uang. Kadang berupa ketenangan, kadang berupa pertemanan yang tulus,
kadang berupa kesempatan memperbaiki diri. Dan setiap kali aku lupa, aku ingat
abangda, kertas kusam itu, dan satu kata yang menjadi kunci segalanya: pemberian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar