Oleh: OK Zulfani Anhar
Di zaman ketika gawai lebih sering digenggam
daripada tasbih, orang mengira ilmu lama telah mati. Padahal ia hanya
bersembunyi, menunggu orang yang cukup putus asa untuk mencarinya.
Raka tidak pernah
berniat mempelajari amalan apa pun. Ia hidup wajar: bekerja di kantor kecil,
pulang naik motor, dan menghindari konflik sebisa mungkin. Namun musuh sering
kali datang tanpa diundang. Bukan dengan parang atau tombak seperti kisah zaman
dahulu, melainkan dengan fitnah, kuasa, dan senyum licik.
Atasan Raka,
seorang pria bernama Surya, perlahan mematahkan hidupnya. Laporan dipelintir,
nama baik dijatuhkan, dan setiap kesalahan - bahkan yang bukan miliknya - selalu
berujung pada Raka. Melawan secara terbuka hanya akan membuatnya semakin
terjepit.
Suatu malam, Raka
pulang ke rumah ibunya di kampung. Rumah kayu tua itu masih berdiri, seperti
waktu yang menolak bergerak. Saat membersihkan loteng, ia menemukan buku lusuh
beraksara lama. Di sampulnya tertulis samar:
Amalan untuk Menundukkan Musuh Tanpa Darah.
Ibunya melihat
buku itu dan terdiam lama.
“Itu bukan
untuk balas dendam,” kata sang ibu pelan. “Dulu, kakekmu memakainya untuk
menghentikan orang zalim. Tapi syaratnya berat.”
Raka tertawa kecil.
“Zaman sekarang masih percaya begituan, Bu?”
Ibunya
menatapnya lurus. “Zaman boleh berubah. Hati manusia tidak.”
Malam itu, Raka
membaca. Amalan itu sederhana, tapi menuntut disiplin: bangun sebelum fajar,
membersihkan diri, membaca rangkaian doa lama sambil membayangkan musuh bukan
sebagai sosok yang harus dihancurkan, melainkan sebagai kehendak yang harus
dilunakkan. Tidak boleh ada niat mencelakai. Jika niat melenceng, akibatnya
kembali pada pelaku.
Raka ragu.
Namun keputusasaan lebih keras daripada logika.
Ia mulai
mengamalkannya.
Hari-hari
berlalu tanpa tanda apa pun. Surya tetap menekan, tetap tersenyum dingin.
Hingga suatu rapat besar, ketika Surya berdiri mempresentasikan laporan.
Tiba-tiba suaranya bergetar. Data yang ia yakini benar mendadak terasa asing di
matanya sendiri. Kata-kata berantakan. Untuk pertama kalinya, ia terlihat
kecil.
Beberapa hari
kemudian, Surya berubah. Nada bicaranya melunak. Tuduhan berhenti. Bahkan suatu
sore, ia memanggil Raka ke ruangannya.
“Saya tidak
tahu kenapa,” katanya lirih, “akhir-akhir ini saya merasa… salah.”
Raka hanya
menunduk.
Ia sadar,
amalan itu tidak menghancurkan musuhnya. Ia hanya menundukkan kesombongan yang
bersemayam di dalam diri Surya. Seperti kisah zaman dulu, ketika seorang
pendekar menang tanpa menghunus senjata.
Namun malam
itu, Raka menghentikan amalannya. Ia teringat pesan ibunya: ilmu ini bukan
untuk dipelihara, hanya dipinjam saat keadilan tak menemukan jalan.
Di zaman sekarang, musuh tidak selalu jatuh
tersungkur. Kadang, ia hanya belajar berhenti menindas. Dan itu, Raka tahu,
sudah lebih dari cukup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar