Minggu, 04 September 2016

Amalan Menundukkan Musuh

Oleh: OK Zulfani Anhar

Di zaman ketika gawai lebih sering digenggam daripada tasbih, orang mengira ilmu lama telah mati. Padahal ia hanya bersembunyi, menunggu orang yang cukup putus asa untuk mencarinya.

Raka tidak pernah berniat mempelajari amalan apa pun. Ia hidup wajar: bekerja di kantor kecil, pulang naik motor, dan menghindari konflik sebisa mungkin. Namun musuh sering kali datang tanpa diundang. Bukan dengan parang atau tombak seperti kisah zaman dahulu, melainkan dengan fitnah, kuasa, dan senyum licik.

Atasan Raka, seorang pria bernama Surya, perlahan mematahkan hidupnya. Laporan dipelintir, nama baik dijatuhkan, dan setiap kesalahan - bahkan yang bukan miliknya - selalu berujung pada Raka. Melawan secara terbuka hanya akan membuatnya semakin terjepit.

Suatu malam, Raka pulang ke rumah ibunya di kampung. Rumah kayu tua itu masih berdiri, seperti waktu yang menolak bergerak. Saat membersihkan loteng, ia menemukan buku lusuh beraksara lama. Di sampulnya tertulis samar:

Amalan untuk Menundukkan Musuh Tanpa Darah.

Ibunya melihat buku itu dan terdiam lama.

“Itu bukan untuk balas dendam,” kata sang ibu pelan. “Dulu, kakekmu memakainya untuk menghentikan orang zalim. Tapi syaratnya berat.”

Raka tertawa kecil. “Zaman sekarang masih percaya begituan, Bu?”

Ibunya menatapnya lurus. “Zaman boleh berubah. Hati manusia tidak.”

Malam itu, Raka membaca. Amalan itu sederhana, tapi menuntut disiplin: bangun sebelum fajar, membersihkan diri, membaca rangkaian doa lama sambil membayangkan musuh bukan sebagai sosok yang harus dihancurkan, melainkan sebagai kehendak yang harus dilunakkan. Tidak boleh ada niat mencelakai. Jika niat melenceng, akibatnya kembali pada pelaku.

Raka ragu. Namun keputusasaan lebih keras daripada logika.

Ia mulai mengamalkannya.

Hari-hari berlalu tanpa tanda apa pun. Surya tetap menekan, tetap tersenyum dingin. Hingga suatu rapat besar, ketika Surya berdiri mempresentasikan laporan. Tiba-tiba suaranya bergetar. Data yang ia yakini benar mendadak terasa asing di matanya sendiri. Kata-kata berantakan. Untuk pertama kalinya, ia terlihat kecil.

Beberapa hari kemudian, Surya berubah. Nada bicaranya melunak. Tuduhan berhenti. Bahkan suatu sore, ia memanggil Raka ke ruangannya.

“Saya tidak tahu kenapa,” katanya lirih, “akhir-akhir ini saya merasa… salah.”

Raka hanya menunduk.

Ia sadar, amalan itu tidak menghancurkan musuhnya. Ia hanya menundukkan kesombongan yang bersemayam di dalam diri Surya. Seperti kisah zaman dulu, ketika seorang pendekar menang tanpa menghunus senjata.

Namun malam itu, Raka menghentikan amalannya. Ia teringat pesan ibunya: ilmu ini bukan untuk dipelihara, hanya dipinjam saat keadilan tak menemukan jalan.

Di zaman sekarang, musuh tidak selalu jatuh tersungkur. Kadang, ia hanya belajar berhenti menindas. Dan itu, Raka tahu, sudah lebih dari cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar