Minggu, 04 September 2016

Pikiran Yang Menyalakan Mesin

Oleh: OK Zulfani Anhar

Mobil itu bukan yang paling baru. Catnya sudah sedikit pudar, ada goresan tipis di pintu kiri, dan suara mesinnya tak pernah benar-benar sunyi. Aku juga bukan pemilik yang telaten. Jarang mencuci, kadang lupa ganti oli tepat waktu, dan sering menganggapnya sekadar alat pindah dari satu titik ke titik lain.

Anehnya, mobil itu hampir tak pernah rewel.

Temanku bilang itu kebetulan. Mekanik bengkel menyebutnya “unit bagus”. Tapi aku tahu ada sesuatu yang lain - sesuatu yang lebih pelan, lebih halus, dan tak bisa diukur dengan alat.

Aku tidak pernah berpikir buruk tentang mobilku.

Setiap kali memutar kunci kontak, aku tidak menunggu masalah. Tidak ada doa yang diselipkan dengan rasa cemas, tidak ada pikiran, “Semoga hari ini jangan mogok.” Yang ada hanya asumsi tenang: mobil ini akan berjalan, seperti biasa. Dan ia selalu menuruti asumsi itu.

Suatu malam, di tengah hujan, aku terjebak macet, lama. Mobil lain di sekitarku mulai satu per satu menyerah - mesin panas, lampu mati, klakson putus asa. Aku duduk diam, tanganku di setir, napasku teratur. Aku tidak memarahi mobilku. Tidak juga memujinya berlebihan. Aku hanya memperlakukannya seperti sesuatu yang bisa dipercaya.

Mesinnya berdetak stabil, seperti jantung yang yakin pada tubuhnya sendiri.

Aku teringat sesuatu yang pernah kubaca: pikiran manusia adalah lingkungan pertama bagi apa pun yang ia miliki. Kekhawatiran adalah bentuk perawatan yang salah - ia memperlakukan masa depan sebagai ancaman, bukan kemungkinan.

Mobilku tidak pernah menerima ketakutanku, karena aku tak pernah memberikannya.

Bukan berarti aku percaya mobil punya perasaan. Tapi aku tahu aku punya. Dan perasaan itu menentukan caraku mengemudi, caraku mendengar suara mesin, caraku bereaksi pada getaran kecil. Tanpa prasangka buruk, aku tidak tegang. Tanpa tegang, aku tidak memaksa. Tanpa memaksa, tak ada yang perlu dilawan.

Mobil itu berjalan dalam ruang psikologis yang tenang.

Suatu hari, akhirnya ia rusak juga. Hal kecil. Wajar. Aku tersenyum saat menepi. Tidak kecewa, tidak marah. Hanya berpikir, “Oh, kamu lelah ya.”

Dan anehnya, setelah diperbaiki, ia kembali seperti semula - setia, jarang rewel, jarang ngadat.

Sejak itu aku mengerti:
Bukan karena aku tidak merawat mobilku lalu ia baik-baik saja.
Tapi karena aku tidak pernah memusuhinya di dalam pikiranku.

Kadang, yang membuat sesuatu bertahan bukan perhatian berlebihan, melainkan kepercayaan yang sunyi.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar