Oleh:
OK Zulfani Anhar
Mobil itu bukan
yang paling baru. Catnya sudah sedikit pudar, ada goresan tipis di pintu kiri,
dan suara mesinnya tak pernah benar-benar sunyi. Aku juga bukan pemilik yang
telaten. Jarang mencuci, kadang lupa ganti oli tepat waktu, dan sering
menganggapnya sekadar alat pindah dari satu titik ke titik lain.
Anehnya, mobil
itu hampir tak pernah rewel.
Temanku bilang
itu kebetulan. Mekanik bengkel menyebutnya “unit bagus”. Tapi aku tahu ada
sesuatu yang lain - sesuatu yang lebih pelan, lebih halus, dan tak bisa diukur
dengan alat.
Aku tidak pernah
berpikir buruk tentang mobilku.
Setiap kali
memutar kunci kontak, aku tidak menunggu masalah. Tidak ada doa yang diselipkan
dengan rasa cemas, tidak ada pikiran, “Semoga
hari ini jangan mogok.” Yang ada hanya asumsi tenang: mobil ini akan
berjalan, seperti biasa. Dan ia selalu menuruti asumsi itu.
Suatu malam, di
tengah hujan, aku terjebak macet, lama. Mobil lain di sekitarku mulai satu per
satu menyerah - mesin panas, lampu mati, klakson putus asa. Aku duduk diam, tanganku
di setir, napasku teratur. Aku tidak memarahi mobilku. Tidak juga memujinya
berlebihan. Aku hanya memperlakukannya seperti sesuatu yang bisa dipercaya.
Mesinnya
berdetak stabil, seperti jantung yang yakin pada tubuhnya sendiri.
Aku teringat
sesuatu yang pernah kubaca: pikiran manusia adalah lingkungan pertama bagi apa
pun yang ia miliki. Kekhawatiran adalah bentuk perawatan yang salah - ia
memperlakukan masa depan sebagai ancaman, bukan kemungkinan.
Mobilku tidak
pernah menerima ketakutanku, karena aku tak pernah memberikannya.
Bukan berarti
aku percaya mobil punya perasaan. Tapi aku tahu aku punya. Dan perasaan itu
menentukan caraku mengemudi, caraku mendengar suara mesin, caraku bereaksi pada
getaran kecil. Tanpa prasangka buruk, aku tidak tegang. Tanpa tegang, aku tidak
memaksa. Tanpa memaksa, tak ada yang perlu dilawan.
Mobil itu
berjalan dalam ruang psikologis yang tenang.
Suatu hari,
akhirnya ia rusak juga. Hal kecil. Wajar. Aku tersenyum saat menepi. Tidak
kecewa, tidak marah. Hanya berpikir, “Oh,
kamu lelah ya.”
Dan anehnya,
setelah diperbaiki, ia kembali seperti semula - setia, jarang rewel, jarang
ngadat.
Sejak itu aku
mengerti:
Bukan karena aku tidak merawat mobilku lalu ia baik-baik saja.
Tapi karena aku tidak pernah memusuhinya di dalam pikiranku.
Kadang, yang membuat sesuatu bertahan bukan perhatian
berlebihan, melainkan kepercayaan yang sunyi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar