Minggu, 02 Oktober 2016

Cirik Barandang



Oleh: OK Zulfani Anhar

Di nagari kecil di kaki Bukit Barisan, ada satu rahasia yang hanya dibisikkan dari dapur ke dapur, dari ninik mamak ke kemenakan yang dianggap siap: Cirik Barandang. Orang-orang menyebutnya pelan, seolah kata itu sendiri bisa mendengar dan menyimpan dendam.

Secara bahasa, Cirik Barandang berarti tahi yang disangrai. Kedengarannya menjijikkan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia bukan ilmu sembarangan. Ia adalah pelet penunduk yang dipercaya mampu melipat kehendak manusia, membuat logika melemah dan kepatuhan tumbuh seperti akar yang mencengkeram batu.

Malam itu, hujan turun rapat. Bau tanah basah bercampur asap kayu dari dapur Uni Sari. Sejak menikah dengan Marajo, hidupnya terasa seperti berjalan di atas duri. Marajo keras kepala, tak pernah mau mendengar, dan pulang hanya untuk bertengkar. Kata orang, lelaki itu “kepala batu, tak bisa dilunakkan dengan doa biasa”.

Uni Sari menatap lesung tua di sudut dapur. Di sana terletak pinang sendawar, bahan yang konon paling ampun. Pinang itu sudah ditelannya sejak sore, mengikuti petunjuk dukun tua yang tinggal di seberang sungai. Kini, dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil dan mulai menggongseng hasilnya, mengaduk perlahan hingga menghitam dan kering.

Asap tipis naik, berbau pahit dan asing. Uni Sari menahan napas.

“Ini salah atau benar,” gumamnya, “Tuhan tahu niat ambo.”

Serbuk hitam itu kemudian ia simpan, menunggu saat yang tepat.

Keesokan paginya, Marajo pulang lebih awal. Uni Sari mencampurkan serbuk Cirik Barandang ke dalam kopi pahit kesukaan suaminya. Tak ada doa keras, hanya bisikan lirih yang nyaris tak terdengar.

Marajo meminum kopi itu tanpa curiga.

Hari pertama tak terjadi apa-apa. Hari kedua, Marajo mulai diam. Hari ketiga, ia menunduk saat Uni Sari bicara. Seminggu berlalu, lelaki yang dulu keras itu berubah seperti bayang-bayang dirinya sendiri. Ia menurut, patuh, bahkan kehilangan logika dalam kepatuhan itu. Orang-orang di nagari mulai berbisik:

“Marajo kanai Cirik Barandang.”

Awalnya Uni Sari merasa menang. Tak ada lagi bentakan, tak ada tangan yang terangkat. Namun lama-lama, kepatuhan itu terasa kosong. Marajo tak lagi tertawa, tak lagi berpendapat. Ia seperti boneka yang menunggu perintah.

Suatu malam, Uni Sari menangis di depan suaminya.

“Bang,” katanya lirih, “ambo indak minta abang jadi begini.”

Marajo hanya menatap kosong, matanya redup seperti api yang kehabisan kayu.

Saat itulah Uni Sari sadar, Cirik Barandang memang bisa menaklukkan hati, tapi juga mematikan jiwa. Ia bukan jalan keluar, melainkan jalan pintas yang menelan dua orang sekaligus: yang ditundukkan dan yang menundukkan.

Keesokan harinya, Uni Sari pergi ke sungai dan membuang sisa serbuk hitam itu. Ia memilih jalan yang lebih berat: bicara, bertahan, atau bahkan berpisah jika harus.

Di nagari itu, Cirik Barandang tetap ada, tetap dibisikkan. Tapi kisah Uni Sari menjadi pengingat: ada ilmu yang kuat pengaruhnya, namun kekuatannya selalu menuntut bayaran—dan sering kali, bayaran itu adalah hati manusia sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar