Oleh: OK Zulfani Anhar
Di nagari kecil di kaki Bukit Barisan, ada
satu rahasia yang hanya dibisikkan dari dapur ke dapur, dari ninik mamak ke
kemenakan yang dianggap siap: Cirik
Barandang. Orang-orang menyebutnya pelan, seolah kata itu sendiri bisa
mendengar dan menyimpan dendam.
Secara bahasa,
Cirik Barandang berarti tahi yang disangrai.
Kedengarannya menjijikkan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia bukan
ilmu sembarangan. Ia adalah pelet penunduk yang dipercaya mampu melipat
kehendak manusia, membuat logika melemah dan kepatuhan tumbuh seperti akar yang
mencengkeram batu.
Malam itu, hujan
turun rapat. Bau tanah basah bercampur asap kayu dari dapur Uni Sari. Sejak menikah dengan Marajo, hidupnya terasa seperti berjalan
di atas duri. Marajo keras kepala, tak pernah mau mendengar, dan pulang hanya
untuk bertengkar. Kata orang, lelaki itu “kepala batu, tak bisa dilunakkan
dengan doa biasa”.
Uni Sari menatap
lesung tua di sudut dapur. Di sana terletak pinang sendawar, bahan yang konon paling ampun. Pinang
itu sudah ditelannya sejak sore, mengikuti petunjuk dukun tua yang tinggal di
seberang sungai. Kini, dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil dan mulai
menggongseng hasilnya, mengaduk perlahan hingga menghitam dan kering.
Asap tipis
naik, berbau pahit dan asing. Uni Sari menahan napas.
“Ini salah atau
benar,” gumamnya, “Tuhan tahu niat ambo.”
Serbuk hitam
itu kemudian ia simpan, menunggu saat yang tepat.
Keesokan
paginya, Marajo pulang lebih awal. Uni Sari mencampurkan serbuk Cirik Barandang
ke dalam kopi pahit kesukaan suaminya. Tak ada doa keras, hanya bisikan lirih
yang nyaris tak terdengar.
Marajo meminum
kopi itu tanpa curiga.
Hari pertama
tak terjadi apa-apa. Hari kedua, Marajo mulai diam. Hari ketiga, ia menunduk
saat Uni Sari bicara. Seminggu berlalu, lelaki yang dulu keras itu berubah
seperti bayang-bayang dirinya sendiri. Ia menurut, patuh, bahkan kehilangan
logika dalam kepatuhan itu. Orang-orang di nagari mulai berbisik:
“Marajo kanai
Cirik Barandang.”
Awalnya Uni
Sari merasa menang. Tak ada lagi bentakan, tak ada tangan yang terangkat. Namun
lama-lama, kepatuhan itu terasa kosong. Marajo tak lagi tertawa, tak lagi
berpendapat. Ia seperti boneka yang menunggu perintah.
Suatu malam,
Uni Sari menangis di depan suaminya.
“Bang,” katanya
lirih, “ambo indak minta abang jadi begini.”
Marajo hanya
menatap kosong, matanya redup seperti api yang kehabisan kayu.
Saat itulah Uni
Sari sadar, Cirik Barandang memang bisa menaklukkan hati, tapi juga mematikan
jiwa. Ia bukan jalan keluar, melainkan jalan pintas yang menelan dua orang
sekaligus: yang ditundukkan dan yang menundukkan.
Keesokan
harinya, Uni Sari pergi ke sungai dan membuang sisa serbuk hitam itu. Ia
memilih jalan yang lebih berat: bicara, bertahan, atau bahkan berpisah jika
harus.
Di nagari itu, Cirik Barandang tetap ada, tetap
dibisikkan. Tapi kisah Uni Sari menjadi pengingat: ada ilmu yang kuat
pengaruhnya, namun kekuatannya selalu menuntut bayaran—dan sering kali, bayaran
itu adalah hati manusia sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar