Oleh: OK Zulfani Anhar
Medan Labuhan, awal tahun 1950-an, adalah
pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur. Bau asin laut bercampur teriakan
kuli angkut, bunyi rantai kapal, dan desir angin yang membawa kisah orang-orang
perantau. Di antara hiruk-pikuk itu, hidup seorang gadis bangsawan Melayu yang
namanya kerap disebut dengan nada berbisik: Tengku Rampai.
Setiap pagi,
sebelum matahari meninggi, Tengku Rampai duduk di beranda rumah besarnya yang
menghadap sungai. Jemarinya cekatan meramu bunga rampai - mawar, kenanga,
cempaka, dan sedikit daun pandan yang dirajang halus.
Harumnya lembut, menenangkan, seolah
menyimpan rahasia. Sebagian disimpannya dalam mangkuk kuningan warisan
keluarga, sebagian lagi ia selipkan di rambut hitamnya yang disanggul
sederhana. Orang-orang berkata, kecantikannya bagai lukisan istana; namun yang
tak banyak diketahui, keberaniannya jauh melampaui rupa itu.
Di tengah dunia
yang mengikatnya dengan gelar dan adat, Tengku Rampai telah memilih hatinya
sendiri. Seorang pemuda Melayu kebanyakan, Ulong Samad, berasal dari Teluk Mengkudu. Ia merantau ke
Labuhan, bekerja sebagai kuli pelabuhan - mengangkat peti, mengikat tali, dan
sesekali meniup serunai pitunangnya saat senja. Nada serunai itu, lirih dan
panjang, kerap mengapung di udara, menembus tembok-tembok adat yang tebal.
Mereka seiya
sekata. Di bawah pohon mempelam yang tua, di tepi pelabuhan, Tengku Rampai kerap
mendengarkan Ulong Samad bercerita tentang laut yang luas dan hidup yang
sederhana. Tak ada janji muluk, hanya kesetiaan yang disimpan rapat, seperti
bunga rampai di rambutnya.
Namun adat
lebih keras dari doa. Tengku Rampai dijodohkan dengan Tengku Anhar, bangsawan Melayu dari Tebingtinggi. Lelaki
itu telah beristri dua, usianya seumuran ayah Tengku Rampai. Perkawinan
dirancang megah - beradat diraja, penuh adat resam, kain songket, payung
kuning, dan tabuhan gendang yang menggema. Semua orang bersukacita, kecuali
satu hati yang retak diam-diam.
Pada hari
perhelatan, langit cerah seolah merestui. Tengku Rampai duduk bersanding,
wajahnya tenang, rambutnya tetap diselipi bunga rampai. Saat itulah, dari
kejauhan, terdengar bunyi serunai pitunang. Lirih, sendu, seperti doa yang
tersesat. Di bawah pohon mempelam dekat tempat perhelatan, Ulong Samad berdiri, meniup serunai itu.
Tak seorang pun mengenalinya sebagai apa selain pemusik jalanan.
Tengku Rampai
tahu. Tak ada serunai lain yang bernada seperti itu. Ada aliran pitunang
merasuk ke hati terdalamnya.
Saat rehat
berganti busana, ia mengendap-endap keluar. Tanpa perhiasan, tanpa pengiring.
Ia menemui Ulong Samad, dan tanpa kata, mereka berlari ke arah laut. Nafas
terengah, langkah mereka ditelan pasir. Sebuah perahu kecil tertambat, tali
dilepas dengan tangan gemetar. Mereka berlayar, hanya berdua, tanpa arah tujuan
- cukup menjauh dari bunyi gendang dan jerat adat.
Laut mula-mula
tenang, memantulkan langit petang. Tengku Rampai menaburkan segenggam bunga
rampai ke air, seolah memohon restu. Namun malam turun cepat. Angin berubah
kasar. Ombak datang bertubi-tubi, menghantam perahu kecil itu. Dayung terlepas.
Perahu terombang-ambing, bagai daun kering di arus tak bertepi.
Dalam gelap,
Tengku Rampai menggenggam tangan Ulong Samad. “Jika ini akhir,” katanya lirih,
“biarlah laut menjadi saksi pilihan kita.”
Serunai
pitunang terjatuh ke air, nadanya berhenti selamanya. Ombak membesar, dan
perahu itu hilang ditelan malam.
Keesokan
harinya, laut tenang kembali. Tak ada kabar, tak ada jejak. Hanya di tepi
pantai, orang-orang menemukan taburan bunga rampai terapung, harumnya masih
bertahan di udara asin. Sejak itu, tiap senja, nelayan Teluk Mengkudu dan Medan
Labuhan mengaku mendengar serunai lirih dari kejauhan - nada panjang, sendu,
seperti cinta yang tak sempat berlabuh.
Dan di rumah bangsawan yang megah, mangkuk kuningan bunga rampai dibiarkan kosong, menjadi
kenangan tentang seorang Tengku yang memilih keberanian, meski harus dibayar
dengan laut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar