Minggu, 09 Oktober 2016

Bunga Rampai

Oleh: OK Zulfani Anhar

Medan Labuhan, awal tahun 1950-an, adalah pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur. Bau asin laut bercampur teriakan kuli angkut, bunyi rantai kapal, dan desir angin yang membawa kisah orang-orang perantau. Di antara hiruk-pikuk itu, hidup seorang gadis bangsawan Melayu yang namanya kerap disebut dengan nada berbisik: Tengku Rampai.

Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Tengku Rampai duduk di beranda rumah besarnya yang menghadap sungai. Jemarinya cekatan meramu bunga rampai - mawar, kenanga, cempaka, dan sedikit daun pandan yang dirajang halus.

Harumnya lembut, menenangkan, seolah menyimpan rahasia. Sebagian disimpannya dalam mangkuk kuningan warisan keluarga, sebagian lagi ia selipkan di rambut hitamnya yang disanggul sederhana. Orang-orang berkata, kecantikannya bagai lukisan istana; namun yang tak banyak diketahui, keberaniannya jauh melampaui rupa itu.

Di tengah dunia yang mengikatnya dengan gelar dan adat, Tengku Rampai telah memilih hatinya sendiri. Seorang pemuda Melayu kebanyakan, Ulong Samad, berasal dari Teluk Mengkudu. Ia merantau ke Labuhan, bekerja sebagai kuli pelabuhan - mengangkat peti, mengikat tali, dan sesekali meniup serunai pitunangnya saat senja. Nada serunai itu, lirih dan panjang, kerap mengapung di udara, menembus tembok-tembok adat yang tebal.

Mereka seiya sekata. Di bawah pohon mempelam yang tua, di tepi pelabuhan, Tengku Rampai kerap mendengarkan Ulong Samad bercerita tentang laut yang luas dan hidup yang sederhana. Tak ada janji muluk, hanya kesetiaan yang disimpan rapat, seperti bunga rampai di rambutnya.

Namun adat lebih keras dari doa. Tengku Rampai dijodohkan dengan Tengku Anhar, bangsawan Melayu dari Tebingtinggi. Lelaki itu telah beristri dua, usianya seumuran ayah Tengku Rampai. Perkawinan dirancang megah - beradat diraja, penuh adat resam, kain songket, payung kuning, dan tabuhan gendang yang menggema. Semua orang bersukacita, kecuali satu hati yang retak diam-diam.

Pada hari perhelatan, langit cerah seolah merestui. Tengku Rampai duduk bersanding, wajahnya tenang, rambutnya tetap diselipi bunga rampai. Saat itulah, dari kejauhan, terdengar bunyi serunai pitunang. Lirih, sendu, seperti doa yang tersesat. Di bawah pohon mempelam dekat tempat perhelatan, Ulong Samad berdiri, meniup serunai itu. Tak seorang pun mengenalinya sebagai apa selain pemusik jalanan.

Tengku Rampai tahu. Tak ada serunai lain yang bernada seperti itu. Ada aliran pitunang merasuk ke hati terdalamnya.

Saat rehat berganti busana, ia mengendap-endap keluar. Tanpa perhiasan, tanpa pengiring. Ia menemui Ulong Samad, dan tanpa kata, mereka berlari ke arah laut. Nafas terengah, langkah mereka ditelan pasir. Sebuah perahu kecil tertambat, tali dilepas dengan tangan gemetar. Mereka berlayar, hanya berdua, tanpa arah tujuan - cukup menjauh dari bunyi gendang dan jerat adat.

Laut mula-mula tenang, memantulkan langit petang. Tengku Rampai menaburkan segenggam bunga rampai ke air, seolah memohon restu. Namun malam turun cepat. Angin berubah kasar. Ombak datang bertubi-tubi, menghantam perahu kecil itu. Dayung terlepas. Perahu terombang-ambing, bagai daun kering di arus tak bertepi.

Dalam gelap, Tengku Rampai menggenggam tangan Ulong Samad. “Jika ini akhir,” katanya lirih, “biarlah laut menjadi saksi pilihan kita.”

Serunai pitunang terjatuh ke air, nadanya berhenti selamanya. Ombak membesar, dan perahu itu hilang ditelan malam.

Keesokan harinya, laut tenang kembali. Tak ada kabar, tak ada jejak. Hanya di tepi pantai, orang-orang menemukan taburan bunga rampai terapung, harumnya masih bertahan di udara asin. Sejak itu, tiap senja, nelayan Teluk Mengkudu dan Medan Labuhan mengaku mendengar serunai lirih dari kejauhan - nada panjang, sendu, seperti cinta yang tak sempat berlabuh.

Dan di rumah bangsawan yang megah, mangkuk kuningan  bunga rampai dibiarkan kosong, menjadi kenangan tentang seorang Tengku yang memilih keberanian, meski harus dibayar dengan laut.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar