Minggu, 09 Oktober 2016

LANGIR


Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi turun perlahan di tebing sungai itu, seperti doa yang lupa diselesaikan semalam. Kabut tipis bergelayut di antara batang-batang bambu, dan air mengalir bening, memantulkan langit yang masih pucat. Di situlah perempuan itu berlangir.

Ia datang membawa tempayan kecil dari tanah liat, berisi air rendaman limau purut, serai hutan, dan segenggam bunga liar. Bau asam segar bercampur wangi daun menghanyutkan ingatan pada sesuatu yang lama - tentang ibu-ibu dahulu yang percaya bahwa langir bukan sekadar membersihkan tubuh, melainkan menenangkan jiwa, menolak hal-hal buruk yang menempel tanpa sadar.

Perempuan itu menanggalkan kain luarnya, menyisakan selendang tipis yang melukis tubuhnya dengan cara paling sederhana. Rambutnya hitam, panjang, dan ketika air langir disiramkan, helainya jatuh seperti malam yang basah. Ia memejamkan mata, membiarkan air sungai dan langir menyatu di kulitnya, seakan sedang dibersihkan dari dunia.

Di balik semak rotan, seorang pemuda berdiam.

Ia sudah lama ada di sana, bahkan sebelum perempuan itu datang. Awalnya ia hanya hendak menjerat ikan kecil, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok itu menuruni batu sungai. Ia tahu seharusnya pergi. Sungai punya adatnya sendiri. Perempuan yang berlangir bukan untuk dipandangi. Namun kakinya membatu, dan matanya - yang selalu patuh - hari itu memilih durhaka.

Pemuda itu mengenal perempuan itu. Mereka sering berpapasan di jalan kampung, saling menunduk, saling menyapa sekadarnya. Ia menyukai cara perempuan itu tertawa kecil ketika malu, dan cara ia membawa diri, seperti air yang tahu ke mana harus mengalir. Tapi lidah pemuda itu kerap kalah oleh jantungnya sendiri. Kata cinta selalu sampai di dada, tak pernah berani naik ke mulut.

Dari tempat persembunyiannya, ia melihat perempuan itu menyiramkan limau langir ke rambutnya. Tetesan air jatuh satu per satu, membentuk lingkaran kecil di permukaan sungai. Wajah perempuan itu tenang, seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Mungkin dengan masa lalu. Mungkin dengan harapan.

“Bersihlah,” gumam perempuan itu pelan, hampir tak terdengar. “Yang melekat, yang berat, yang tak perlu.”

Pemuda itu mendengar, meski tak yakin apakah kata-kata itu nyata atau hanya gema di kepalanya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin keluar dari balik semak, ingin mengatakan bahwa ia mencintainya dengan cara paling sederhana: menemaninya pulang, menimba air bersamanya, atau sekadar duduk diam di beranda sore hari. Tapi bayangan penolakan, bisik orang kampung, dan ketakutan akan kehilangan membuat langkahnya tetap terikat.

Perempuan itu selesai berlangir. Ia memeras rambutnya, mengenakan kembali kainnya, lalu duduk sebentar di batu, membiarkan angin mengeringkan tubuh dan pikirannya. Sesaat, matanya menatap ke arah semak tempat pemuda itu bersembunyi. Pemuda itu menahan napas.

Ia tak tahu apakah perempuan itu melihatnya, atau hanya merasakan sesuatu - seperti firasat halus yang sering dimiliki orang-orang yang dekat dengan alam. Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang tak ditujukan pada siapa pun, lalu berdiri dan melangkah pergi.

Pemuda itu baru berani keluar ketika suara langkah itu benar-benar hilang. Sungai kembali sepi. Bau langir masih tertinggal di udara, menusuk lembut, seperti kenangan yang enggan pergi. Ia duduk di batu tempat perempuan itu tadi, merendam tangannya ke air.

Air sungai mengalir, membawa sisa langir entah ke mana. Pemuda itu sadar, ada hal-hal yang hanya bisa dibersihkan dengan keberanian - bukan dengan limau, bukan dengan air, melainkan dengan kata-kata yang akhirnya diucapkan.

Namun pagi itu, ia pulang dengan diam. Cintanya tetap tinggal di sungai, mengendap bersama bau limau langir, menunggu hari ketika ia cukup berani untuk menyebut namanya sendiri.

 


Bunga Rampai

Oleh: OK Zulfani Anhar

Medan Labuhan, awal tahun 1950-an, adalah pelabuhan yang tak pernah benar-benar tidur. Bau asin laut bercampur teriakan kuli angkut, bunyi rantai kapal, dan desir angin yang membawa kisah orang-orang perantau. Di antara hiruk-pikuk itu, hidup seorang gadis bangsawan Melayu yang namanya kerap disebut dengan nada berbisik: Tengku Rampai.

Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Tengku Rampai duduk di beranda rumah besarnya yang menghadap sungai. Jemarinya cekatan meramu bunga rampai - mawar, kenanga, cempaka, dan sedikit daun pandan yang dirajang halus.

Harumnya lembut, menenangkan, seolah menyimpan rahasia. Sebagian disimpannya dalam mangkuk kuningan warisan keluarga, sebagian lagi ia selipkan di rambut hitamnya yang disanggul sederhana. Orang-orang berkata, kecantikannya bagai lukisan istana; namun yang tak banyak diketahui, keberaniannya jauh melampaui rupa itu.

Di tengah dunia yang mengikatnya dengan gelar dan adat, Tengku Rampai telah memilih hatinya sendiri. Seorang pemuda Melayu kebanyakan, Ulong Samad, berasal dari Teluk Mengkudu. Ia merantau ke Labuhan, bekerja sebagai kuli pelabuhan - mengangkat peti, mengikat tali, dan sesekali meniup serunai pitunangnya saat senja. Nada serunai itu, lirih dan panjang, kerap mengapung di udara, menembus tembok-tembok adat yang tebal.

Mereka seiya sekata. Di bawah pohon mempelam yang tua, di tepi pelabuhan, Tengku Rampai kerap mendengarkan Ulong Samad bercerita tentang laut yang luas dan hidup yang sederhana. Tak ada janji muluk, hanya kesetiaan yang disimpan rapat, seperti bunga rampai di rambutnya.

Namun adat lebih keras dari doa. Tengku Rampai dijodohkan dengan Tengku Anhar, bangsawan Melayu dari Tebingtinggi. Lelaki itu telah beristri dua, usianya seumuran ayah Tengku Rampai. Perkawinan dirancang megah - beradat diraja, penuh adat resam, kain songket, payung kuning, dan tabuhan gendang yang menggema. Semua orang bersukacita, kecuali satu hati yang retak diam-diam.

Pada hari perhelatan, langit cerah seolah merestui. Tengku Rampai duduk bersanding, wajahnya tenang, rambutnya tetap diselipi bunga rampai. Saat itulah, dari kejauhan, terdengar bunyi serunai pitunang. Lirih, sendu, seperti doa yang tersesat. Di bawah pohon mempelam dekat tempat perhelatan, Ulong Samad berdiri, meniup serunai itu. Tak seorang pun mengenalinya sebagai apa selain pemusik jalanan.

Tengku Rampai tahu. Tak ada serunai lain yang bernada seperti itu. Ada aliran pitunang merasuk ke hati terdalamnya.

Saat rehat berganti busana, ia mengendap-endap keluar. Tanpa perhiasan, tanpa pengiring. Ia menemui Ulong Samad, dan tanpa kata, mereka berlari ke arah laut. Nafas terengah, langkah mereka ditelan pasir. Sebuah perahu kecil tertambat, tali dilepas dengan tangan gemetar. Mereka berlayar, hanya berdua, tanpa arah tujuan - cukup menjauh dari bunyi gendang dan jerat adat.

Laut mula-mula tenang, memantulkan langit petang. Tengku Rampai menaburkan segenggam bunga rampai ke air, seolah memohon restu. Namun malam turun cepat. Angin berubah kasar. Ombak datang bertubi-tubi, menghantam perahu kecil itu. Dayung terlepas. Perahu terombang-ambing, bagai daun kering di arus tak bertepi.

Dalam gelap, Tengku Rampai menggenggam tangan Ulong Samad. “Jika ini akhir,” katanya lirih, “biarlah laut menjadi saksi pilihan kita.”

Serunai pitunang terjatuh ke air, nadanya berhenti selamanya. Ombak membesar, dan perahu itu hilang ditelan malam.

Keesokan harinya, laut tenang kembali. Tak ada kabar, tak ada jejak. Hanya di tepi pantai, orang-orang menemukan taburan bunga rampai terapung, harumnya masih bertahan di udara asin. Sejak itu, tiap senja, nelayan Teluk Mengkudu dan Medan Labuhan mengaku mendengar serunai lirih dari kejauhan - nada panjang, sendu, seperti cinta yang tak sempat berlabuh.

Dan di rumah bangsawan yang megah, mangkuk kuningan  bunga rampai dibiarkan kosong, menjadi kenangan tentang seorang Tengku yang memilih keberanian, meski harus dibayar dengan laut.

 

Senin, 03 Oktober 2016

Pohon Langkat, Percakapan dengan Diri di Masa Lalu

Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku kembali duduk di balai-balai tua itu, tepat di bawah pohon langkat yang batangnya berkerut seperti kulit orang tua. Malam turun perlahan, membawa bau tanah basah dan suara serangga yang saling sahut. Angin menyentuh daun-daun, membuatnya berbisik seolah menyebut namaku.

Balai-balai ini tak banyak berubah. Papan kayunya masih sama - retak di sudut kiri, paku berkarat di tengah. Dulu aku sering duduk di sini, menunggu waktu lewat sambil berpura-pura tak takut pada gelap. Kini aku kembali, dengan usia yang lebih berat dan ingatan yang tak lagi jinak.

“Apa kau masih suka menghitung bintang?” sebuah suara tiba-tiba terdengar.

Aku terkejut. Suara itu datang dari arah batang langkat, lembut tapi jelas. Aku menoleh. Di sana berdiri seseorang - kurus, rambutnya sedikit acak, mengenakan kaus lusuh yang sangat kukenal. Dadaku menegang.

Itu aku.

Lebih tepatnya, aku yang dulu.

“Jangan terkejut,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang dulu sering kupakai untuk menutupi takut. “Bukankah kau sering bilang pohon langkat ini ada penghuninya?”

Aku menelan ludah. Dalam benakku, cerita lama berkelebat. Tentang makhluk gaib penunggu pohon langkat, tentang suara-suara malam yang konon bisa menjawab pertanyaan orang yang duduk sendirian. Aku selalu percaya setengah-setengah - percaya karena takut, menyangkal karena ingin terlihat berani.

“Kau… siapa?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.

“Aku dirimu yang sering duduk di balai-balai ini,” katanya. “Yang bercakap-cakap dengan gelap dan mengira itu makhluk gaib.”

Aku tertawa kecil, getir. “Jadi selama ini aku bicara dengan diriku sendiri?”

Ia mengangkat bahu. “Atau mungkin kau bicara dengan sesuatu yang lebih jujur dari manusia.”

Kami duduk berhadapan. Balai-balai berderit pelan, seolah ikut mendengarkan. Daun langkat kembali berdesir, seperti napas panjang.

“Aku dulu banyak bertanya,” kata versi mudaku. “Kenapa hidup terasa sempit. Kenapa mimpi terasa jauh. Apa aku akan baik-baik saja.”

Aku terdiam. Pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup di dalamku, hanya bentuknya yang berubah.

“Dan apa jawabannya?” tanyaku pelan.

Ia menatapku lama. Matanya sama denganku - penuh harap yang rapuh. “Kau tak pernah menjawab. Kau hanya mendengarkan.”

Aku mengangguk. Dulu aku percaya makhluk gaib di pohon ini akan memberiku petunjuk. Kini aku sadar, yang sebenarnya kubutuhkan hanyalah ruang untuk jujur pada diri sendiri.

“Aku ingin tahu,” katanya lagi, suaranya bergetar, “apakah aku jadi seperti yang kuinginkan?”

Aku ingin berbohong. Ingin berkata semuanya indah, semuanya tercapai. Tapi balai-balai ini, pohon langkat ini, tak pernah menyukai dusta.

“Tidak sepenuhnya,” jawabku akhirnya. “Tapi kita bertahan. Kita belajar. Kita masih duduk di sini.”

Ia tersenyum. Senyum yang kali ini lebih tenang. “Berarti aku tak salah menunggu.”

Angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berdesir, lalu sunyi. Ketika aku menoleh lagi, versi mudaku sudah tak ada. Hanya batang langkat yang berdiri diam, dan balai-balai tua yang setia.

Aku menatap ke atas, ke sela-sela daun. Untuk pertama kalinya, aku tak lagi merasa berbicara dengan makhluk gaib. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri - yang dulu, yang sekarang, dan yang masih ingin bertahan.

Dan malam pun mendengarkan.

 

Minggu, 02 Oktober 2016

Cirik Barandang



Oleh: OK Zulfani Anhar

Di nagari kecil di kaki Bukit Barisan, ada satu rahasia yang hanya dibisikkan dari dapur ke dapur, dari ninik mamak ke kemenakan yang dianggap siap: Cirik Barandang. Orang-orang menyebutnya pelan, seolah kata itu sendiri bisa mendengar dan menyimpan dendam.

Secara bahasa, Cirik Barandang berarti tahi yang disangrai. Kedengarannya menjijikkan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia bukan ilmu sembarangan. Ia adalah pelet penunduk yang dipercaya mampu melipat kehendak manusia, membuat logika melemah dan kepatuhan tumbuh seperti akar yang mencengkeram batu.

Malam itu, hujan turun rapat. Bau tanah basah bercampur asap kayu dari dapur Uni Sari. Sejak menikah dengan Marajo, hidupnya terasa seperti berjalan di atas duri. Marajo keras kepala, tak pernah mau mendengar, dan pulang hanya untuk bertengkar. Kata orang, lelaki itu “kepala batu, tak bisa dilunakkan dengan doa biasa”.

Uni Sari menatap lesung tua di sudut dapur. Di sana terletak pinang sendawar, bahan yang konon paling ampun. Pinang itu sudah ditelannya sejak sore, mengikuti petunjuk dukun tua yang tinggal di seberang sungai. Kini, dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil dan mulai menggongseng hasilnya, mengaduk perlahan hingga menghitam dan kering.

Asap tipis naik, berbau pahit dan asing. Uni Sari menahan napas.

“Ini salah atau benar,” gumamnya, “Tuhan tahu niat ambo.”

Serbuk hitam itu kemudian ia simpan, menunggu saat yang tepat.

Keesokan paginya, Marajo pulang lebih awal. Uni Sari mencampurkan serbuk Cirik Barandang ke dalam kopi pahit kesukaan suaminya. Tak ada doa keras, hanya bisikan lirih yang nyaris tak terdengar.

Marajo meminum kopi itu tanpa curiga.

Hari pertama tak terjadi apa-apa. Hari kedua, Marajo mulai diam. Hari ketiga, ia menunduk saat Uni Sari bicara. Seminggu berlalu, lelaki yang dulu keras itu berubah seperti bayang-bayang dirinya sendiri. Ia menurut, patuh, bahkan kehilangan logika dalam kepatuhan itu. Orang-orang di nagari mulai berbisik:

“Marajo kanai Cirik Barandang.”

Awalnya Uni Sari merasa menang. Tak ada lagi bentakan, tak ada tangan yang terangkat. Namun lama-lama, kepatuhan itu terasa kosong. Marajo tak lagi tertawa, tak lagi berpendapat. Ia seperti boneka yang menunggu perintah.

Suatu malam, Uni Sari menangis di depan suaminya.

“Bang,” katanya lirih, “ambo indak minta abang jadi begini.”

Marajo hanya menatap kosong, matanya redup seperti api yang kehabisan kayu.

Saat itulah Uni Sari sadar, Cirik Barandang memang bisa menaklukkan hati, tapi juga mematikan jiwa. Ia bukan jalan keluar, melainkan jalan pintas yang menelan dua orang sekaligus: yang ditundukkan dan yang menundukkan.

Keesokan harinya, Uni Sari pergi ke sungai dan membuang sisa serbuk hitam itu. Ia memilih jalan yang lebih berat: bicara, bertahan, atau bahkan berpisah jika harus.

Di nagari itu, Cirik Barandang tetap ada, tetap dibisikkan. Tapi kisah Uni Sari menjadi pengingat: ada ilmu yang kuat pengaruhnya, namun kekuatannya selalu menuntut bayaran—dan sering kali, bayaran itu adalah hati manusia sendiri.

Pelet Cinta Nan Ringkas


Oleh: OK Zulfani Anhar

Aku menemukan pelet itu di saku jaketnya - sebuah bunga cempaka kering, dibungkus kertas rokok bertuliskan namaku, beraroma minyak wangi seribu bunga. Namaku ditulis dengan huruf yang kukenal: goyah, seolah ditulis sambil menahan napas. Jantungku berdegup seperti pintu yang dipukul dari dalam.

“Cuma penenang,” katanya suatu sore, ketika aku bertanya mengapa akhir-akhir ini aku sering terbangun dengan rasa rindu yang tak beralasan, rindu yang menggerogoti kepala seperti bunyi jam rusak. Ia tersenyum kecil, senyum yang dulu kucintai karena terasa jujur. Kini, senyum itu terasa seperti sesuatu yang dilatih.

Sejak kapan cinta membutuhkan penenang?

Malam-malamku berubah. Aku mencintainya dengan cara yang tak pernah kupelajari. Aku menghafal napasnya, takut jika berhenti. Aku cemburu pada benda-benda: kursi yang lebih dulu menerima berat tubuhnya, pintu yang lebih dulu ia sentuh. Ketika ia terlambat membalas pesan, pikiranku berlari ke lorong-lorong gelap - aku membayangkan kepergiannya sebagai kematian kecil yang harus kualami berulang-ulang.

Aku mencoba berhenti. Aku menolak bertemu. Aku mematikan ponsel. Tapi rasa itu justru menguat, menekan dari dalam seperti kepalan tangan. Aku bermimpi dikejar bayanganku sendiri yang memanggil namanya. Aku bangun dengan lidah pahit, dada penuh, dan rasa malu yang tak bisa kujelaskan.

Suatu pagi, aku membaca ulang kertas rokok itu. Tulisan namaku tampak kabur, seolah huruf-hurufnya larut. Aku bertanya pada diri sendiri: jika cinta ini harus dipanggil dengan mantra, apakah ia masih cinta? Atau hanya pantulan keinginan seseorang yang takut sendirian?

Aku mendatanginya. Rumahnya sunyi. Di meja, ada semangkuk jeruk purut dan bunga setaman, dan anehnya ada pula bunga cempaka kering itu. Banyak. Terlalu banyak untuk satu orang. Aku membayangkan ia menaburkannya ke udara, berharap sesuatu jatuh tepat di hatinya sendiri. Harapan yang salah alamat.

“Maaf,” katanya ketika aku menunjukkan benda  itu. “Aku cuma ingin kamu tinggal.”

Kalimat itu sederhana, ringkas. Ia tak menyebut cinta. Ia menyebut ketakutan.

Aku meninggalkannya sore itu, membawa serta rasa yang belum padam. Di jalan, aku merasa ada yang mengikat langkahku, benang halus yang ditarik dari belakang. Aku hampir kembali. Hampir.

Hari-hari berikutnya, rasa itu surut perlahan, meninggalkan bekas seperti luka bakar. Aku belajar tidur tanpa memanggil namanya. Aku belajar bahwa kehilangan bisa sembuh, meski tak pernah sepenuhnya hilang.

Sebulan kemudian, aku mendengar kabar ia ditemukan sendirian, mangkok itu kosong. Tak ada pesan. Tak ada penjelasan. Hanya rumah yang kembali sunyi, lebih sunyi dari sebelumnya.

Aku berdiri di depan cermin, menyebut namaku sendiri, memastikan aku masih ada. Pelet cinta memang ringkas - ia bekerja cepat, dan berakhir cepat. Yang panjang hanyalah akibatnya: rasa bersalah yang menetap, dan kesadaran pahit bahwa cinta yang dipaksa tak pernah benar-benar datang. Ia hanya singgah, lalu pergi, meninggalkan seseorang yang lupa bagaimana mencintai tanpa mantra.


Jumat, 16 September 2016

Kesepian yang Belajar Pergi


Oleh: OK Zulfani Anhar

Malam menutup kota dengan suara klakson dan langkah yang tergesa. Namun di kamar sempit lantai tiga itu, Boboboi duduk sendiri dalam sunyi yang terasa ganjil. Ponselnya menyala di atas meja, bergetar pelan oleh notifikasi yang tak benar-benar ingin ia buka. Ada kabar bahagia orang lain, ada tawa yang dibagikan lewat layar, ada hidup yang tampak berjalan baik-baik saja, bukan hidupnya.

Saat layar itu akhirnya ia matikan, kosong mengendap tanpa permisi.

Boboboi tahu ia tidak sendiri. Ada keluarga yang masih bisa dihubungi, teman lama yang namanya tersimpan rapi, rekan kerja yang menyapanya setiap pagi. Namun kesepian tidak pernah bertanya berapa banyak orang di sekeliling kita. Ia hanya ingin tahu satu hal: apakah kita benar-benar dilihat.

Ingatan Boboboi melayang pada sore tadi di kafe kecil langganannya. Ia berbincang singkat dengan pelayan tentang cuaca yang terlalu panas dan kopi yang terasa lebih pahit dari biasanya. Tidak penting, tidak mendalam. Tapi anehnya, percakapan singkat itu meninggalkan hangat yang jujur - lebih hangat daripada obrolan panjang di grup pesan yang penuh tawa palsu dan basa-basi.

Di sanalah ia mengerti: kesepian bukan tentang sunyi, melainkan tentang keterhubungan.

Keesokan harinya, Boboboi mencoba hal sederhana. Ia menyapa satpam kompleks dengan senyum dan bertanya kabar. Ia menulis pesan pada seorang teman lama dengan jujur, tanpa topeng: “Apa kabar? Aku kangen ngobrol.” Tidak semua pesan dibalas cepat. Ada yang hanya dibaca, ada yang tak kunjung dijawab. Namun hatinya terasa lebih ringan. Ia telah berani membuka pintu.

Hari-hari berlalu pelan. Boboboi belajar duduk dengan perasaannya sendiri tanpa mengusirnya. Ia belajar bahwa kesepian tidak perlu dikalahkan dengan keramaian. Ia cukup dihadapi dengan keberanian untuk hadir - bagi orang lain, dan bagi diri sendiri. Mengakui bahwa merasa sepi bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia.

Suatu malam, ia kembali ke kamar yang sama. Masih sunyi, masih sederhana. Namun ada yang berbeda. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, secangkir teh hangat mengepul di meja, dan satu pesan baru masuk di ponselnya: ajakan bertemu akhir pekan.

Boboboi tersenyum kecil.

Ia tahu kesepian mungkin akan datang lagi. Tapi kini ia paham satu hal penting: jangan biarkan kesepian tinggal terlalu lama. Sambutlah ia sebentar, pahami maksudnya, lalu bukakan pintu - agar ia tahu kapan harus pergi.

Jumat, 09 September 2016

Risalah Rezeki

image

Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu belum sepenuhnya terjaga ketika aku bertemu dengannya. Matahari masih malu-malu menyelinap di sela awan, dan embun menahan dingin di ujung daun. Di sebuah warung kecil yang menghadap jalan lengang, aku duduk berhadapan dengan sosok yang sejak lama kuanggap lebih dari sekadar sahabat. Namanya M. Muhar Omtatok, dan seperti biasa aku memanggilnya abangda - panggilan yang lahir dari kekeluargaan dan rasa tak bersekat.

Abangda datang tanpa banyak kata. Senyumnya tenang, seolah membawa kabar baik yang tak perlu diumumkan keras-keras. Kami memesan teh tarik. Ia mengaduk pelan, lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya. Kertas itu sudah sedikit kusam, lipatannya menyimpan jejak perjalanan. “Ini bukan kertas biasa,” katanya lirih. “Ini risalah.”

Aku membacanya dengan saksama, dan sejak kalimat pertama, dadaku terasa lapang.
Mengenai hakikat rezeki harus difahami berdasarkan realitas maknanya. Kata rezeki dari kata ar-Rizq… berarti pemberian.

Aku terdiam. Kata “pemberian” berputar lama di kepalaku. Selama ini, aku sering mengira rezeki hanya soal angka - berapa yang masuk, berapa yang keluar. Padahal, abangda menuntunku kembali ke asal: pemberian. Dan sebagai orang beragama, pemberian itu datang dari Tuhan.

“Rezeki itu luas,” lanjut abangda, seakan membaca pikiranku. “Bukan hanya yang bisa dimakan atau dipakai. Bahkan yang tak sempat kita manfaatkan pun tetap rezeki.”


Aku mengangguk. Aku teringat kesehatan yang sering kuabaikan, waktu yang kusiakan, dan orang-orang baik yang singgah sebentar lalu pergi - ternyata mereka pun bagian dari rezeki.

Di risalah itu tertulis pula, betapa zaman telah mempersempit makna rezeki menjadi uang dan kebendaan. Abangda tak menyalahkan siapa pun. Ia hanya tersenyum dan menyerahkan daftar petuah, seperti peta pulang bagi hati yang tersesat.

Pertama, katanya, jangan durhaka dan jangan menyakitkan hati orangtua. Santuni mereka dengan uang, perhatian, dan kasih sayang. Aku teringat suara ibu di telepon yang sering kuakhiri terburu-buru.

Kedua, jangan menganiaya diri sendiri, orang lain, dan seluruh makhluk.
Ketiga, ikhlas - kata yang sederhana namun paling berat diamalkan.

Ia membacakan satu per satu, dan setiap petuah terasa seperti cermin. Berderma setiap pagi. Memperbanyak senyum tanpa dibuat-buat. Tidak memakan yang bukan hak. Tidak tidur dari terbit fajar hingga tengah hari.

Berserah diri pada Tuhan namun tetap optimis, sabar tapi bersungguh-sungguh. Bergaul dengan orang baik akhlaknya dan lancar rezekinya. Tidak berburuk sangka, menjaga aroma kebaikan di tubuh dan tempat tinggal. Beribadah bila masih percaya rezeki bersumber dari Tuhan. Membuka silaturrahmi. Bersyukur dan menghindari keluh. Realistis memilih usaha, berkaca pada potensi.

“Kalau lima belas petuah ini dijalankan,” ujar abangda, “rezeki akan datang dari mana pun, tanpa menyulitkan.”
Aku menatap kertas itu lagi. Di bagian bawah tertulis kecil: Disarikan dari Risalah Subuh – M. Muhar Omtatok.

Teh tarik  kami telah dingin. Namun dadaku hangat. Aku sadar, yang diberikan abangda pagi itu bukan sekadar nasihat, melainkan arah. Ia tidak menjanjikan kemewahan, tidak pula menakut-nakuti dengan kekurangan. Ia hanya mengingatkan cara berjalan - agar langkahku tidak melukai, agar tanganku ringan memberi, agar hatiku bersih menerima.

Kami berpisah ketika matahari sudah cukup tinggi. Di jalan pulang, aku mempraktikkan risalah itu dengan cara paling sederhana: tersenyum pada orang yang kutemui, melangkah lebih pelan, dan bersyukur karena masih bisa menghirup udara pagi. Aku menelepon ibu, kali ini tanpa terburu-buru. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menggantang asap, untuk bekerja sesuai potensi, dan berdoa tanpa menawar.

Sejak hari itu, rezeki memang datang, tidak selalu berupa uang. Kadang berupa ketenangan, kadang berupa pertemanan yang tulus, kadang berupa kesempatan memperbaiki diri. Dan setiap kali aku lupa, aku ingat abangda, kertas kusam itu, dan satu kata yang menjadi kunci segalanya: pemberian.

 

Minggu, 04 September 2016

Pikiran Yang Menyalakan Mesin

Oleh: OK Zulfani Anhar

Mobil itu bukan yang paling baru. Catnya sudah sedikit pudar, ada goresan tipis di pintu kiri, dan suara mesinnya tak pernah benar-benar sunyi. Aku juga bukan pemilik yang telaten. Jarang mencuci, kadang lupa ganti oli tepat waktu, dan sering menganggapnya sekadar alat pindah dari satu titik ke titik lain.

Anehnya, mobil itu hampir tak pernah rewel.

Temanku bilang itu kebetulan. Mekanik bengkel menyebutnya “unit bagus”. Tapi aku tahu ada sesuatu yang lain - sesuatu yang lebih pelan, lebih halus, dan tak bisa diukur dengan alat.

Aku tidak pernah berpikir buruk tentang mobilku.

Setiap kali memutar kunci kontak, aku tidak menunggu masalah. Tidak ada doa yang diselipkan dengan rasa cemas, tidak ada pikiran, “Semoga hari ini jangan mogok.” Yang ada hanya asumsi tenang: mobil ini akan berjalan, seperti biasa. Dan ia selalu menuruti asumsi itu.

Suatu malam, di tengah hujan, aku terjebak macet, lama. Mobil lain di sekitarku mulai satu per satu menyerah - mesin panas, lampu mati, klakson putus asa. Aku duduk diam, tanganku di setir, napasku teratur. Aku tidak memarahi mobilku. Tidak juga memujinya berlebihan. Aku hanya memperlakukannya seperti sesuatu yang bisa dipercaya.

Mesinnya berdetak stabil, seperti jantung yang yakin pada tubuhnya sendiri.

Aku teringat sesuatu yang pernah kubaca: pikiran manusia adalah lingkungan pertama bagi apa pun yang ia miliki. Kekhawatiran adalah bentuk perawatan yang salah - ia memperlakukan masa depan sebagai ancaman, bukan kemungkinan.

Mobilku tidak pernah menerima ketakutanku, karena aku tak pernah memberikannya.

Bukan berarti aku percaya mobil punya perasaan. Tapi aku tahu aku punya. Dan perasaan itu menentukan caraku mengemudi, caraku mendengar suara mesin, caraku bereaksi pada getaran kecil. Tanpa prasangka buruk, aku tidak tegang. Tanpa tegang, aku tidak memaksa. Tanpa memaksa, tak ada yang perlu dilawan.

Mobil itu berjalan dalam ruang psikologis yang tenang.

Suatu hari, akhirnya ia rusak juga. Hal kecil. Wajar. Aku tersenyum saat menepi. Tidak kecewa, tidak marah. Hanya berpikir, “Oh, kamu lelah ya.”

Dan anehnya, setelah diperbaiki, ia kembali seperti semula - setia, jarang rewel, jarang ngadat.

Sejak itu aku mengerti:
Bukan karena aku tidak merawat mobilku lalu ia baik-baik saja.
Tapi karena aku tidak pernah memusuhinya di dalam pikiranku.

Kadang, yang membuat sesuatu bertahan bukan perhatian berlebihan, melainkan kepercayaan yang sunyi.

 


Amalan Menundukkan Musuh

Oleh: OK Zulfani Anhar

Di zaman ketika gawai lebih sering digenggam daripada tasbih, orang mengira ilmu lama telah mati. Padahal ia hanya bersembunyi, menunggu orang yang cukup putus asa untuk mencarinya.

Raka tidak pernah berniat mempelajari amalan apa pun. Ia hidup wajar: bekerja di kantor kecil, pulang naik motor, dan menghindari konflik sebisa mungkin. Namun musuh sering kali datang tanpa diundang. Bukan dengan parang atau tombak seperti kisah zaman dahulu, melainkan dengan fitnah, kuasa, dan senyum licik.

Atasan Raka, seorang pria bernama Surya, perlahan mematahkan hidupnya. Laporan dipelintir, nama baik dijatuhkan, dan setiap kesalahan - bahkan yang bukan miliknya - selalu berujung pada Raka. Melawan secara terbuka hanya akan membuatnya semakin terjepit.

Suatu malam, Raka pulang ke rumah ibunya di kampung. Rumah kayu tua itu masih berdiri, seperti waktu yang menolak bergerak. Saat membersihkan loteng, ia menemukan buku lusuh beraksara lama. Di sampulnya tertulis samar:

Amalan untuk Menundukkan Musuh Tanpa Darah.

Ibunya melihat buku itu dan terdiam lama.

“Itu bukan untuk balas dendam,” kata sang ibu pelan. “Dulu, kakekmu memakainya untuk menghentikan orang zalim. Tapi syaratnya berat.”

Raka tertawa kecil. “Zaman sekarang masih percaya begituan, Bu?”

Ibunya menatapnya lurus. “Zaman boleh berubah. Hati manusia tidak.”

Malam itu, Raka membaca. Amalan itu sederhana, tapi menuntut disiplin: bangun sebelum fajar, membersihkan diri, membaca rangkaian doa lama sambil membayangkan musuh bukan sebagai sosok yang harus dihancurkan, melainkan sebagai kehendak yang harus dilunakkan. Tidak boleh ada niat mencelakai. Jika niat melenceng, akibatnya kembali pada pelaku.

Raka ragu. Namun keputusasaan lebih keras daripada logika.

Ia mulai mengamalkannya.

Hari-hari berlalu tanpa tanda apa pun. Surya tetap menekan, tetap tersenyum dingin. Hingga suatu rapat besar, ketika Surya berdiri mempresentasikan laporan. Tiba-tiba suaranya bergetar. Data yang ia yakini benar mendadak terasa asing di matanya sendiri. Kata-kata berantakan. Untuk pertama kalinya, ia terlihat kecil.

Beberapa hari kemudian, Surya berubah. Nada bicaranya melunak. Tuduhan berhenti. Bahkan suatu sore, ia memanggil Raka ke ruangannya.

“Saya tidak tahu kenapa,” katanya lirih, “akhir-akhir ini saya merasa… salah.”

Raka hanya menunduk.

Ia sadar, amalan itu tidak menghancurkan musuhnya. Ia hanya menundukkan kesombongan yang bersemayam di dalam diri Surya. Seperti kisah zaman dulu, ketika seorang pendekar menang tanpa menghunus senjata.

Namun malam itu, Raka menghentikan amalannya. Ia teringat pesan ibunya: ilmu ini bukan untuk dipelihara, hanya dipinjam saat keadilan tak menemukan jalan.

Di zaman sekarang, musuh tidak selalu jatuh tersungkur. Kadang, ia hanya belajar berhenti menindas. Dan itu, Raka tahu, sudah lebih dari cukup.

Sabtu, 03 September 2016

Ilmu yang Tidak Selalu Bisa Dijelaskan


Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu aku berdiri di bengkel kayu kecil di ujung kampung. Seorang tukang kayu tua sedang bekerja sendirian. Tangannya bergerak cepat, gergaji turun naik dengan ritme yang nyaris seperti musik. Potongan kayu jatuh rapi, lurus, seolah sudah diukur oleh alat canggih. Padahal aku tak melihat penggaris, apalagi mesin modern.

“Bagaimana Bapak bisa sepresisi itu?” tanyaku.

Ia berhenti sebentar, tersenyum, lalu mengangkat bahu.
“Ya begini saja. Sudah biasa.”

Jawaban yang sama kudengar di dapur rumah seorang ibu. Tanpa resep tertulis, tanpa menimbang bumbu, ia memasak masakan favorit keluarga dengan rasa yang selalu sama. Ketika ditanya takarannya, ia hanya menunjuk ujung jarinya. “Kira-kira segini,” katanya. Masakan itu tak pernah gagal.

Di jalanan, seorang pengendara motor melaju lincah di tengah keramaian. Tubuhnya condong mengikuti arus, refleksnya cepat menghindari lubang dan kendaraan lain. Tak tampak ragu. Tak tampak berpikir keras. Semua mengalir begitu saja.

Aku mulai menyadari satu hal: ada pengetahuan yang tidak lahir dari buku.

Pengetahuan itu tidak tertulis, tidak terucap dengan rapi, dan sering kali tidak bisa dijelaskan. Ia hidup di tangan, di tubuh, di kebiasaan. Ia tumbuh dari pengalaman yang diulang-ulang sampai akhirnya menyatu dengan diri seseorang. Inilah pengetahuan yang diam-diam bekerja di balik kelancaran hidup sehari-hari.

Aku teringat saat pertama kali belajar naik sepeda. Banyak nasihat kudengar: jaga keseimbangan, jangan kaku, pandangan lurus ke depan. Semua terdengar masuk akal, tapi tak satu pun benar-benar menolong saat roda mulai goyah. Aku jatuh, bangkit, jatuh lagi. Sampai suatu sore, tanpa sadar, tubuhku tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada rumus. Tidak ada hafalan. Hanya rasa.

Sejak saat itu, aku bisa bersepeda tanpa berpikir.

Di dunia kerja pun aku melihat hal yang sama. Seorang pegawai senior mampu mengambil keputusan cepat dalam situasi rumit. Ketika diminta menjelaskan alasannya, ia terdiam sejenak. “Pengalaman,” katanya singkat. Ia pernah ada di sana. Pernah gagal. Pernah berhasil. Semua itu terkumpul menjadi insting yang sulit diterjemahkan menjadi kata-kata.

Di Indonesia, pengetahuan seperti ini sering diwariskan secara sunyi. Seorang anak belajar sopan santun bukan dari daftar aturan, tetapi dari cara orang tuanya berbicara. Seorang murid belajar kebijaksanaan bukan hanya dari buku pelajaran, melainkan dari sikap gurunya sehari-hari. Mereka mengamati, meniru, dan mengalami.

Namun pengetahuan semacam ini sering diabaikan. Dunia lebih percaya pada sertifikat, angka, dan teori tertulis. Padahal, kemampuan sejati seseorang sering tersembunyi dalam pengalaman yang tak pernah dicatat.

Aku kembali mengingat tukang kayu tua itu. Tangannya mungkin tak memegang ijazah tinggi, tetapi setiap gerakannya menyimpan puluhan tahun belajar tanpa sadar. Pengetahuan yang tidak berisik, tapi bekerja dengan setia.

Dari situ aku belajar:
belajar bukan hanya soal membaca dan menghafal.
Belajar adalah soal mengalami, merasakan, dan melakukan - sampai suatu hari, kita tak perlu lagi bertanya bagaimana caranya.

Karena tubuh, pengalaman, dan kebiasaan sudah lebih dulu tahu.

 

Kelimpahan Yang Tak Terlihat

Oleh: OK Zulfani Anhar

Pagi itu, Arga duduk di warung kopi kecil di sudut pasar. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul pelan, aromanya bercampur dengan suara tawar-menawar para pedagang. Arga menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan penolakan kerja - lagi. Ia menarik napas panjang. Dalam benaknya, hidup selalu terasa kurang: kurang uang, kurang pengakuan, kurang keberuntungan.

Di meja sebelah, seorang lelaki tua menyesap teh hangat sambil tersenyum pada siapa saja yang lewat. Pak Saman, begitu orang-orang memanggilnya. Pakaian lelaki itu sederhana, bahkan tampak lusuh. Namun senyumnya seperti tak pernah habis.

“Anak muda, kopinya enak?” tanya Pak Saman.

Arga mengangguk singkat. “Lumayan, Pak.”

Pak Saman tertawa kecil. “Lumayan itu sudah lebih dari cukup.”

Kalimat itu membuat Arga mengernyit. Ia terbiasa mendengar orang berkata belum cukup, bukan lebih dari cukup. Tanpa sadar, Arga mulai bercerita, tentang kegagalannya, tentang teman-temannya yang sudah mapan, tentang hidup yang terasa tidak adil.

Pak Saman mendengarkan tanpa menyela. Setelah Arga selesai, lelaki tua itu berkata pelan, “Dulu saya juga begitu. Mengukur hidup dari apa yang tidak saya punya.”

“Sekarang Bapak sudah punya segalanya?” tanya Arga, setengah sinis.

Pak Saman menggeleng. “Tidak. Tapi saya berhenti merasa kekurangan.”

Ia menunjuk pasar yang ramai. “Lihat mereka. Ada yang dagangannya sedikit, ada yang banyak. Tapi yang tersenyum itu bukan selalu yang paling laris. Kelimpahan itu soal cara memandang, bukan soal isi kantong.”

Hari itu, Arga pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Ia mulai mencoba hal kecil: bersyukur atas tubuhnya yang sehat, atas ibunya yang selalu menelpon, atas waktu luang yang bisa ia gunakan untuk belajar. Ia berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain.

Beberapa minggu kemudian, Arga mendapat pekerjaan sederhana di sebuah komunitas belajar. Gajinya tidak besar, tetapi setiap sore ia pulang dengan perasaan berguna. Ia mengenal orang-orang baru, berbagi cerita, dan tertawa tanpa perlu memikirkan apa yang kurang.

Suatu pagi, Arga kembali ke warung kopi. Ia mencari Pak Saman, tetapi kursi itu kosong.

“Pak Saman sudah pindah,” kata pemilik warung. “Katanya mau tinggal dekat cucunya.”

Arga tersenyum. Ia menyesap kopinya dan menyadari sesuatu: hidupnya belum berubah drastis, tetapi hatinya terasa penuh. Ia mengerti kini - kelimpahan bukan sesuatu yang dikejar jauh ke depan, melainkan sesuatu yang hadir ketika ia berhenti merasa kurang.

Kopi itu tetap sama. Namun pagi itu, Arga merasa hidupnya lebih utuh.